Jumat, 20 April 2012

PENENTUAN KONSENTRASI PROTEIN CARA BIURET

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Biokimia dengan judul “PENENTUAN KONSENTRASI PROTEIN CARA BIURET” yang disusun oleh :
Nama                     : ABDI KURNIAWAN
Nim                       : 101414007
Kelas                     : B
Kelompok             : IV
Telah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten dan Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima.


Makassar,   November 2011
      Koordinator asisten                                                                      Asisten


     Djumarirmanto S.Pd                                                       Yusnaini  Yusuf S.si
                                                                                                 
                                             
 Mengetahui
    Dosen penanggung jawab




Prof.Dr.Ir. Hj. Yusminah Hala, MS
NIP/NIK         :   19611212 198601 2 002
BABI
PENDAHULUAN
 A.  Latar belakang
Biologi merupakan salah satu jurusan yang membahas mengenai makhluk hidup namun dalam pembahasan makhluk hidup tidak lepas pula tentang kimia yang mana pada makhluk hidup banyak unsure-unsur kimia yang terkandung di dalamnya, misalnya unsur asam amino, peptide dan protein.
Kira-kira 50%dari berat kering organism yang hidup adalah protein. Dan protein bukan hanya sekedar bahan simpanan atau structural, seperti halnya polisakarida. Kita ketahui bersama  bahwa  variasi fungsi protein sama banyaknya dengan variasi fungsi kehidupan itu sendiri. Semua katalisator yang jumblahnya mencapai ribuan memungkinkan terjadinya reaksi kimia dalam zat hidup adalah protein.
Protein didalm semua makhluk tanpa memandang fungsi dan aktifitas biologinya di bangun oleh susunan dasar yang sama yaitu 20 asam amino baku yang molekulnya sendiri tidak  memiliki aktivitas biologi, secara sederhana protein berbeda satu sama lain karna masing –masing mempunyai deret asam amino sendiri.
Dalam kimia biasanya di gunakan larutan yang bermacam- macam dan mempunyai konsentrsi yang berbeda. Dalam hal ini kami selaku mahasiswa biologi belum mengetahui bagaimana bisa suatu larutan yang sama tapi mempunyai konsentrasi yang berbeda oleh karna itu kami melakukan praktikumya penurunan konsentrasi protei cara biuret ini agar kami dapat mengetahuinya.
B. Tujuan                                                   
 Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi protein total yang terdapat pada sampel
C. Manfaat
Mahasiswa dapat menunjukan konsentrasi protein total yang terdapa tpada sampel.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sebagian besar ilmu kimia organisme hidup menyangkut 5 golongan senyawa utama, yaitu: karbohidrat, lipida, mineral, asam nukleat dan protein. Protein menentukan kebanyakan sifat-sifat yang ditemukan dalam kehidupan. Protein menentukan metabolisme, membentuk jaringan dan membertikan kemungkinan bagai kita untuk bergerak. Protein juga berfungsi mengangkut senyawa-senyawa dan melindungi kita dari penyebaran mikroorganisme yang merugikan. Bahkan sifat-sifat yang diturunkan oleh suatu organisme untuk membentuk bermacam-macam jenis protein dengan kecepatan yang berbeda (Gilvery, 1996). Selain itu proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu hemoglobin dalam butir darah merah (eritrosit) yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh adalah salah satu jenis protein(Fessenden. 1986).
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof) (Fessenden. 1986).
Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa dijumpa Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa dijumpai pada protein.Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat. Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan amino diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang melibatkan gugus R-nya ( Hawab. 2004).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi (Hala, 2011).
Protein utama merupakan makro molekul yang paling berlimpah didalam sel dan menyusul lebih dari setengah berat kering pada hamper semu organisme. Protein merupakan instrument yang mengekspresikan informasi genetic. Seperti juga terdapat ribuan gen didalam inti sel. Masing-masing mencirikan suatu sifat nyata dari organisme, didalam sel terdapat ribuan jenis protein yang berbeda. Masing-masing membawa fungsi spesifik yang dibentuk oleh gen yang sesuai. Protein, karenanya bukan hanya merupakan makromolekul yang berlimpah. Tetapi juga amat bervariasi.(Lehninger, 1995). Protein adalah suatu zat dalam susunan kimianya mengandung unsure-unsur oksigen, karbon, hydrogen, nitrogen dan kadang-kadang mengandung unsure-unsur lain seperti sulfur dan fosfor (Girindra, A. 1986).


















BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal         : Kamis, 7 Desember 2011
Waktu                   : Pukul 09.00 s.d. 11.00 WITA
Tempat                  : Laboratorium Biologi Lantai II Timur FMIPA UNM
  Makassar
B.     Alat dan Bahan
1.      Alat     :
a.         Rak Tabung
b.      Tabung reaksi 2 buah
c.       Pipet tetes
d.      Gels kimia 100 ml
2.      Bahan  :
a.       Protein
b.      Reagen biuret
c.       Larutan X1 dan X2
d.      Aquades
e.       Tissue
C.    Prosedur Kerja
1.    Menyiapkan 5 buah tabung yang bersih dan kering, kemudian mengisi masing-masing dengan 1 ml protein standar dengan konsentrasi 0, 2, 4, 6, 8 mg/l.
2.    Menyiapkan pula 2 tabung reaksi yang bersih dan kering yang masing-masing di isi dengan 1 ml sampel (X1 dan X2).
3.    Menambahkan 4 ml reagen biuret pada setiap tabung reaksidan kemudian mengkocoknya hingga merata.
4.    Mendiamkan campuran tersebut pada suhu kamar sekitar selama 30 menit
5.    Membaca absorbansi masing-masing campuran pada panjang gelombang 550 nm dari campuran yang konsentrasinya  rendah ke yang konsentrasinya lebih tinggi.























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
No
Konsentrasi
Reagen biuret (ml)
Absorbansi (nm)
1
0
4
0,334
2
2
4
0,278
3
4
4
0,388
4
6
4
0,440
5
8
4
0,480
6
X1
4
0,588
7
X2
4
0,376
                           
      Grafik


B. Analisis Data
y = ax + b
a = m =
m =
m =
m =  0,018
m= a= 0,018
maka nilai b:
y = ax + b
0,480 = 0,018 (8) + b
0,480 = 0,144 + b
b = 0,480 – 0,144
b = 0,336
Nilai konsentrasi X1
y = ax + b
0, 588 = 0,018 (X1) + 0,336
0,588 - 0,336 = 0,018 (X1)
0,252 = 0,018 (X1)
X1 =
X1 = 14
Nilai komsentrsi X2
y = ax + b
0, 376 = 0,018 (X2) + 0,336
0,376 - 0,336 = 0,018 (X1)
0,04 = 0,018 (X1)
X2 =
X2 = 2,222
C. Pembahasan
Pada penentuan konsentrasi protein cara biuret dengan menggunakan alat spektrofotometer, dapat ditentukan nilai absorbansi suatu larutan berdasarkan konsentrasinya, dan dari nilai absorbansi dapat ditentukan konsentrasi protein pada sebuah sampel X1 dan X2 bantuan kurva standar dengan menggunakan rumus persamaan garis lurus yaitu y=ax+b. Pengukuran konsentrasi dengan spektrofotometer didasarkan pada hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa pengukuran intensitas cahaya yang masuk dibandingkan dengan banyaknya atom-atom dan panjang medium serapan.
Hasil pengamatan yang telah kami lakukan yaitu menggunakan protein dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu dengan konsentrasi 0, 2, 4, 6, 8 mg/l yang kemudia di tambahkan dengan 4 ml reagen biuret di dapatka hasil  berturut-turut 0,334 nm, 0,278 nm, 0,388 nm, 0,440 nm, dan 0,480 nm, namun pada uji pertama dan ke dua hasilnya kurang benar karna seperti yang kita lihat bahwa konsentrasi yang lebih rendah namun absorbansinya lebih tinggi tetapi pada konsentrasi 0 terjadi peningkatan dibanding konsentrasi lainnya dan terjadi penurunan pada konsentrasi X2. Hal ini tidak sesuai dengan Hukum Beer menyatakan  absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan konsentrasi dan ketebalan bahan/medium (dalam Miller J.N 2000). Adanya perbedaan konsentrasi dan absorbansi antara hasil percobaan dengan teori disebabkan adanya kesalahan prakikan yaitu dalam mengukur banyaknya sampel protein dengan reagen biuret, mencampurkan larutan dan waktu yang dibutuhkan untuk mendiamkannya tidak cukup atau lebih dari 30 menit, pada saat pembacaan nilai absorbansi pada spektrofotometer. Tak hanya itu, kemungkinan bahan atau alat yang digunakan telah rusak.
Untuk sampel X1 dan X2 yang mempunyai absorbansi 0,588 nm dan 0,376 nm telah di ketahui melalui analisis data di atas y,bahwa sampel tersebut mepunyai konsentrasi yang berbeda yaitu X1 = 14 dan X2 = 2,222.
BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat saya tarik setelah melakukan praktikum ini bahwa konsentrasi pada sampel X1 dengan absorbansi 0,588 yaitu 14 dan pada sampel  X2 dengan absorbansi 0,376 yaitu 2,222.
B.   Saran
Praktikan yang melakukan pengamatan seharusnya lebih teliti dan cermat sehingga pengamatan yang dilakukan dapat memberi hasil yang memuaskan, serta dibutuhkan kesabaran dan keuletan dalam melaksanakan praktikum ini agar pencapaian tujuan dapat terlaksana.











DAFTAR PUSTAKA
Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta.

Hala, yusminah. 2011. Penuntun praktikum biokimia umum. Jurusan Biologi,
 FMIPA UNM
Hawab, HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta : Bayu Media Publishing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar