Jumat, 20 April 2012

LEMAK/LIPID


LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Biokimia dengan judul “LEMAK/LIPID” yang disusun oleh :
Nama                     : ABDI KURNIAWAN
Nim                       : 101414007
Kelas                     : B
Kelompok             : IV
Telah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten dan Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima.



Makassar,   Desember 2011
      Koordinator asisten                                                                      Asisten



     Djumarirmanto S.Pd                                                               Sulhannisa
                                                                                                
 Mengetahui
    Dosen penanggung jawab




Prof.Dr.Ir. Hj. Yusminah Hala, MS
NIP/NIK         :   19611212 198601 2 002
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kegemukan berhubungan dengan peningkatan sejumlah kondisi meliputi diabetes melitus, penyakit cardiovaskuler, hipertensi, kanker, peningkatan resiko ketidakmampuan dan peningkatan semua resiko yang menyebabkan kematian. Kegemukan merupakan konsekwensi dari beberapa faktor yang kompleks antara lain peningkatan konsumsi kalori, penurunan aktifitas fisik dan juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Sejak jaman dahulu di China dan negara Asia lainnya, teh merupakan minuman yang dianggap dapat mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. Hal ini didukung oleh banyak penelitian yang menyatakan bahwa polipenol teh mengandung bahan bioaktif yang menekan patogenesis beberapa penyakit kronis khususnya penyakit kardiovaskuler semua hal tersebut dikarnakan oleh lemak.
Lemak merupakan kostituen utama dari sel-sel lemak binatang dan tanaman dan merupakan salah satu cadangan makanan yang penting dalam organisme. lemak atau sering dikenal dengan sebutan lipid merupakan senyawa biomolekul yang tidak dapat larut dalam air.
Lipida adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut dalam air, yang dapat diekstrat dari sel dan jaringan oleh pelarut non polar, seperti kloroform, atau eter. Jenis lipida yang paling banyak adalah lemak atau triasilgliserol, yang merupakan bahan bakar terutama bagi hamper semua organisme. Memang, golongan ini adalah bentuk energy kimia simpanan yang paling penting.
Melalui praktikum ini, kita bisa menengetahui sifat-sifat lemak secara umum, penggolongan lemak jenuh dan tak jenuh, dengan mengacu pada prinsip kerja setiap percobaan.


B.  Tujuan
                   Adapun tujuan praktikum yang ingin dicapai yaitu:
1.    Membedakan kelarutan minyak/lemak dari bahan pelarut yang berbeda.
2.    Mengetahui bahan-bahan yang berfungsi sebagai emulgator.
3.    Mengetahui prinsip kerja gliserol (mengandung gugus aldehid atau keton bebas).
4.    Mengamati tingkat keasaman dan kebasaan dari bahan-bahan uji.
5.    Mengamati pembentukan Kristal pada lemak.
6.    Megetahui pembentukan sabun sebagai emulgator.
C.  Manfaat
Adapun manfaat praktikum dari unit percobaan ini adalah menegetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada berbagai uji dengan menggunakan bahan-bahan yang tergolong kelompok senyawa lemak (asam lemak dan gliserol).

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Asam lemak adalah asam lemah. Apabila dapat larut dalam air molekul asam lemak akan terionisasi sebagian dan melepaskan ion H +. Dalam hal ini pH laritaan tergantung pada kostanta keasaman dan derajat ionisasi masing-masing asam lemak. Asam lemak dapat bereaksi dengan basa membentuk garam (Poedjiadi, 1994).
            Steroid merupakan golongan lipida utama. Steroid yang paling dikenal ialah kolesterol. Kolesterol terdapat dalam semua sel hewan tetapi terutama terkonsentrasi dalam otak dan sum-sum tulang punggung. Tampaknya terdapat hubungan antara konsentrasi kolesterol serum darah dan penyakit jantung koroner (Hart, 2003).
            Apabilah aliran darah di dalam urat nadi koroner itu terhalang secara total, maka bagian otot jantung yang bersangkutan mengalami kerusakan dan ini dikenal sebagai “ serangan jantung akut “ atau acute myocardial infarction (AMI). AMI umumnya disebabkan oleh penyembatan arteri koroner secara tiba-tiba, karena pecahnya plak lemak atherosclerosis pada arteri koroner. Ketika pecah dilokasi tersebut, gumpalan terbentuk dengan cepat yang mengakibatkan penghambatan (okulasi) arteri yang menyeluru, serta memutuskan aliran darah ke otot jantung (Fessenden, 1982).
Lemak yang menjadi makanan bagi manusia dan hewan lain adalah trigliserida, sterol dan fosfolifid membrane yang ada pada hewan dan tumbuhan.Proses metabolisme lipid mengintesis dan mengurangi cadangan lipid dan menghasilkan karakteristik lipid fungsional dan structural pada jaringan individu. Lemak yang terkandung didalam bahan makanan juga dicerna dengan asam empedumenjadi misel, miselakan di peroleh oleh enzim lipase yang di sekresi pancreas menjadi asam lemak. Jenis lemak ini, bila digunakan untuk menggantikan jenis lemak lainnya, bisa menurunkan resiko penyakit jantung dengan cara menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat LDL dalam darah. Asam lemak omega 3, salah satu jenis lemak tidak jenuh ganda, sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung (Anonim, 2011).
Lemak merupakan ester-ester asam lemak yang berasal dari alcohol tunggal, gliserol, HOCH2CHOHCH2OH dan dikenal sebagai gliserida. Asam lemak jenuh dan tak jenuh terdiri dari gliserida yang berasal dari asam-asam karboksilat yang berbeda. Hingga setiap lemak memiliki komposisi tertentu. Kebanyakan asam-asam lemak merupakan senyawa berantai lurus dengan jumlah karbon 3 hingga 18, kecuali senya-senyawa C3 dan C5,yang lain mengandung jumlah atom karbon genap yang merupakan hasil biosintesis lemak
(Matsjeh, 1994).
            Lemak adalah ester lemak dan gliserin. Biasanya zat tersebut tidak larut lah dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak. Adapun pelarut lemak tersebut adalah eter, kloroform, benzene, karbontetraklorida (CCL4), xylena, alcohol panas dan aseton panas. Lipida adalah zat yang menyerupai lemak, sangat penting karena merupakan simpanan tenaga yang amat besar dan sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan K (Hala, 2010).
            Sabun termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut surfaktan (dari kata surface active agents). Yakni senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa saja mengandung suatu ujung hidrofobik (satu rantai hidrokarbon atau lebih) dan suatu ujung hidrofilik (biasanya, namun tidak harus, iunik). Porsi hidrokarbon dari suatu molekul surfaktan harus mengandung 2 atom karbon atau lebih agar efektif (Fessenden, 1982).
            Bila sabun dikocok dengan air akan membentuk dispersi koloid, bukannya larutan sejati. Larutan sabun ini mengandung agregat molekul sabun yang disebut misel. Rantai karbon nonpolar, mengarah kebagian pusat misel. Ujung molekul yang polar, atau hidrofilik, membentuk “permukaan” misel yang terhadapan dengan air. Pada sabun biasa, bagian luar dari setiap misel bermuatan negative, dan ion natrium yang positif terkumpul di dekat keliling setiap misel (Hart, 2003).



BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.      Waktu dan tempat
Hari / tanggal       : Kamis, 22 Desember 2011
Waktu                  : Pukul 11.00 s.d 13.50 Wita
Tempat     : Laboratorium Biologi Lt.2 Sebelah Barat FMIPA UNM

B.       Alat dan bahan
1.         Alat
a.       Rak tabung reaksi
b.      Tabung reaksi
c.       Pipet tetes
d.      Gelas ukur 5 mil
e.       Bunsen
2.     
k. Sabun
l. Reagen benedict
m. Gliserol
h. H2O2
o. FeCL3
p. Asam oleat
q. Asam palmifat
r. Larutan KOH beralkohol
s. Detergen

Bahan
a.       Minyak goring  
b.      Blueband
c.       Air suling
d.      HCL 2 M
e.       Alkohol dingin
f.       Alkohol panas
g.      Na2CO3 1%
h.      Aseton dingin
i.        Aseton panas
j.        Eter
C.     Cara kerja
1.   Percobaan I : Kelarutan
a.         Mengisi tabung reaksi dengan Na2CO3, Alkohol, Air dan HCL 2 ml. Masing-masing diberi perlakuan dengan penambahan mentega pada uji I dan penambahan pada minyak kelapa pada uji II.
b.        Meletakkan 2 tetes mentega pada empat tabung pertama, mengocok larutan dan mengamati perubahan yang terjadi.
c.         Meletakkan 2 tetes minyak pada empat tabung kedua, lalu mengocok dan mengamati perubahan yang terjadi dengan cara yang sama, masukkan alcohol panas, eter dan aseton panas dan dingin.
2.   Percobaan II : Emulasi
a.         Memasukkan larutan sabun sebanyak 3 cc,
b.        Menambahkan 10 tetes minyak kelapa kemudian mengocok kuat-kuat.
c.         Dengan cara yang sama, masukkan minyak kelapa kedalam sabun dan menambahkan NaCO3 secukupnya.
d.        Membandingkan letak perbedaannya.
3.   Pecobaan III : Gliserol dengan benedict
a.       Memasukkan 5 cc reagen benedict lalu menambahkan 5 tetes gliserol.
b.      Memanaskan selama 3 menit. Lalukan juga dengan 25 tetes gliserol.
c.       Pada tabung lain, 5 cc gliserol ditambahkan 1 tetes H2O2 dan 1 tetes FeCL3.
d.      Mengambil campuran tersebut dan mengujinya dengan benedict.
4.      Percobaan IV : Percobaan asam basa
a.      Membasahi kertas indicator lakmus dengan aquades. Memasukkan kertas yang sudah dibasahi kedalam bahan eksperimen (minyak kelapa, gliserol, detergen, dan blueband).
b.      Menggoyang-goyangkan tabung dan mengamati perubahan yang terjadi.
5.      Percobaan V : Kristal Lemak
a.         Memasukkan 5 cc eter kedalam tabung reaksi.
b.        Meneteskan 20 tetes lemak atau minyak kelapa.
c.         Mengocok hingga bahan tercampur, membiarkan eter menguap hingga terbentuk Kristal
d.        Melakukan juga pada bahan uji lain (blueband, asam palmitat).
6.      Percobaan VI : Penyabunan
a.      Memasukkan 4 sampai 5 tetes bahan (blueband, minyak kelapa), menambahkan air suling, masukkan 1 ml KOH beralkohol. Panaskan 1 sampai 2 menit.


















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Pengamatan
1.         Uji kelarutan
 Sampel/pelarut
 Minyak goreng
  Minyak ikan
      Mentega
H2O
HCL 2 N

Na2CO3

Alkohol dingin

Alcohol panas

Petroleum

Aseton dingin

Aseton panas
Eter
peremium
Tidak larut
Tidak larut

   Larut

Tidak larut

Tidak larut

   Larut

Tidak larut

   Larut
   Larut
   Larut
Tidak larut
Tidak larut
(Terapung)
Tidak larut
(terapung)
Tidak larut
(ada endapan)
Tidak larut
(ada endapan)
Tidak larut
(ada endapan)
Tidak larut
(ada endapan)
    Larut
    Larut
    Larut
Tidak larut
Tidak larut

Tidak larut

Tidak larut

   Larut

   Larut

Tidak larut

   Larut
   Larut
   Larut

2.    Uji Emulasi
a.       Sabun 3 ml + 20 tetes minyak kelapa Larut
( 3 mg sabun + 20 ml aquades)

3.      Uji Gliserol dan Benedict
a.       5 ml benedict (biru) + 5 tetes gliserol (Bening) larutan baru, menghasilkan endapan merah.
b.      5 ml gliserol (bening) + 1 tetes H2O2 + 1 FeCL3 Dua lapisan.
Lapisan atas kuning, dan lapisan bawah bening, menghasilkan warna hijau + 3 tetes benedict (biru).
c.       1 ml gliserol + 1 tetes H2O2 + 1 tetes FeCl3 2 lapisan.
Lapisan atas kuning dan lapisan bawah bening menghasilkan warna hijau lumut + 3 tetes benedict (biru) hijau pekat.

4.    Uji asam basa
      sampel
                    Lakmus
  keterangan
       Merah
       Biru
Minyak goreng
Gliserol
Margarin
Merah
Merah
Merah
Biru
Merah
Merah
Netral
Asam
Asam

5.    Kristal Lemak
a.         5 ml eter (bening) + 20 tetes minyak (kuning kental) bening berbentuk Kristal.
b.         5 ml eter (bening) + 5 mg mentega kuning terbentuk Kristal.
6.      Penyabunan
a.       Minyak ikan + KOH beralkohol 5 tetes tidak berbusa.
b.      Mentega + KOH beralkohol berbusa (berwarna kuning), ada endpan orange.
c.       Minyak kelapa + KOH beralkohol berbusa (putih) (larutannya kental susu).







B.       Pembahasan
1.         Uji kelarutan
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kelarutan minyak dan mentega terhadap reagen yang berbeda. Dari hasil pengamatan, terlihat adanya larutan yang larut dan tidak larut. Jika dikelompokkan , reagen yang tidak larut dalam mentega dan minyak adalah alcohol, Na2CO3, air dan HCL serta aseton dingin. Sedangkan reagen yang larut adlah alcohol panas, aseton panas, dan eter. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hala (2010) bahwa lemak tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak seperti eter, alcohol panas, benzene, aseton panas, zylena, kloroform dan karbontetraklorida (CCL4).
Dari hasil percobaan, didapatkan bahwa alcohol panas tidak mampu melarutkan mentega. Hal ini ditandai dengan terbentuknya dua lapisan yaitu lapisan bagian atas adalah mentega sedangkan lapisan lapisan bawah adalah alkohol.
2.         Emulsi
Uji ini dilakukan untuk mengetahui bahan yang tergolong emulgator. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa emulsi stabil akan terbentuk ketika minyak direaksikan dengan sabun. Emulsinya bersifat stabil karena menurut Poedjiadi (2010), sabun dapat mengemulsikan lemak atau minyak. Jadi sabun dapat berfungsi sebagai emulgator. Pada proses pembentukan emulsi ini, bagian hidrofot molekul sabun masuk kedalam minyak. Sedangkan ujung yang bermuatan negative ada dibagian luar.
Minyak yang ditetesi Na2CO3 juga mengalami emulsi stabil. Larutan Na2CO3 merupakan larutan yang bersifat alkali. Alkali berfungsi untukmenghidrolisis minyak kelapa menjadi gliserol dan sabun (garam alkali dari asam lemak). Hal ini sudah sesuai dengan teori Poedjiadi (1994), yang mengemukakan bahwa bila lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali ester terkonversi menjadi gliserol dan garam dari asam lemak.
3.         Gliserol dengan benedict
Berdasarkan hasil percobaan, terdapat endapan kuprooksida yang berwarna kuning dengan kata lain, reaksi yang ditunjukkan adalah positif.
Menurut Hala (2010), yang menyatakan bahwa prinsip kerja percobaan ini adalah gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk kuprooksida. Hasil percobaan menunjukkan reaksi positif karena benedict mampu mengoksidasi gliserol sehingga menghasilkan aldehid atau keton bebas.
4.         Percobaan asam basa
Pengamatan ini dilakukan untuk pengujian keasaman dan kebasaan lipid.  Pada percobaan, sampel yang digunakan adalah minyak goring, gliserol dan margarine. Minyak goring bersifat netral karena ketika diujikan dengan lakmus merah dan biru, tidak terjadi perubahan warna pada lakmus tersebut. Lain halnya dengan gliserol dan margarine yang bersifat asam (lakmus biru berbah menjadi merah).
Menurut Yzid (2006), minyak murni umunya bersifat netral sedangkan minyak yang sudah dibiarkan lama atau tengik akan bersifat asam. Hal ini disebabkan minya mengalami hidrolisis dan oksidasi mengahsilkan aldehid, keton dan asam-asam lemak bebas.
5.         Kristal lemak
Percobaan ini dilakukan untuk menguji adanya Kristal pada lemak. Asam palmitat tidak membentuk Kristal. Pada pengamatan ini, dibutuhkan 20 tetes lemak cair kemudian dikocok sampai semua bahan terlarut, dibiarkan menguap spontan sampai kristalnya terpisah. Menurut Poedjadi (1994), yang menyatakan bahwa lemak dapat membentuk Kristal, begitu pula halnya asam lemak.
6.         Penyabunan
Berdasarkan hasil percobaan, blueband, minyak kelapa, dan gliserol tidak mengalami penyabunan. Yang mengalami reaksi penyabunan adalah asam palmitat. Ketika asam palmitat direaksikan dengan NaOH akan terdapat endapan putih, sedangkan ketika direaksikan dengan KOH akan membentuk sedikit misel.
Hal ini sesuai dengan teori Poedjiadi (1994), yang menyatakan bahwa asam lemak yang digunakan untuk sabun umumnya adalah asam palmitat atau stearat. Melalui proses hidrogenasi dengan bantuan katalis, asam lemak tidak jenuh diubah menjadi asam lemak jenuh dan melalui proses penyabunan dengan basa NaOH atau KOH akan terbentuk sabun dan gliserol.























BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pada uji kelarutan, yang bisa melarutkan minyak atau lemak adalah eter, alcohol panas, dan aseton panas karena ketiganya bersifat non polar dan melarutkan lipid yang juga bersifat nonpolar.
2.      Zat-zat yang berfungsi sebagai emulgator adalah sabun dan Na2CO3 (alkali). Keduanya menghasilkan emulsi yang stabil ketika direaksikan dengan minyak.
3.      Reaksi yang ditunjukkan adalah reaksi positifkarena mengahsilkan warna merah artinya reaksi ini mengandung aldehid atau keton bebas.
4.      Sampel minyak bersifat netral, gliserol dan margarine bersifat asam pada percobaan asam dan basa.
5.      Pada Kristal lemak yang merupakan bahwa lemak dapat membentuk aksi Kristal begitu pula halnya asam lemak.
6.      Asam palmitat dapat mengalami reaksi penyabunan ketika direaksikan dengan KOH atau NaOH, dengan membentuk misel.
B.     Saran
1.      Diharapkan agar praktikal lebih teliti dalam melakukan pengamatan.
2.      Diharapkan agar jumlah asisten disesuaikan dengan jumlah kelompok praktikan yang ada.
3.      Diharapkan agar laboran menyediakan bahan-bahan uji yang diperlukan dan mengganti bahan uji yang sudah tidak efisien penggunaannya.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Biosintesis Asam Lemak. www.wikipedia.com.
Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Hala, Yusmina. 2010. Penuntun Praktikum Biokimia Umum. Makassar : FMIPA UNM.
Hart, Leslie dan David. 2003. Kimia Organik Edisi Kesebelas. Jakarta : Erlangga
Matsjeh, Hardjono dan Respati. 1994. Kimia organic II. Yogyakarta : FMIPA Universitas Gajah Mada.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar