Rabu, 18 April 2012

BIOKIM REAKSI PERUBAHAN WARNA


LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Biokimia dengan judul “REAKSI PERUBAHAN WARNA” yang disusun oleh :
Nama                     : ABDI KURNIAWAN
Nim                       : 101414007
Kelas                     : B
Kelompok             : IV
Telah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten dan Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima.


Makassar,   November 2011
      Koordinator asisten                                                                      Asisten


     Djumarirmanto S.Pd                                                                 Hasrah
                                                                                                 Nim : 081414002
                                             
 Mengetahui
    Dosen penanggung jawab




Prof.Dr.Ir. Hj. Yusminah Hala, MS
NIP/NIK         :   19611212 198601 2 002
BABI
PENDAHULUAN
 A. Latar belakang
Biologi merupakan salah satu jurusan yang membahas mengenai makhluk hidup namun dalam pembahasan makhluk hidup tidak lepaspula tentang kimia yang mana pada makhluk hidup banyak unsure-unsur kimia yang terkandung di dalamnya, misalnya unsur asam amino, peptide dan protein.
Sifat reaksi asam amino, peptida dan protein adalah sangat ditentukan oleh gugus-gugus yang terdapat pada rantai samping molekulnya. Seperti reaksi Ninhidryn, jika direaksikan dengan asam amino atau protein, maka akan membentuk kompleks warna ungu serta mengeluarkan ammonium dan karbon dioksida .Reaksi gugus rantai samping (gugus R) merupakan reaksi spesifik dalam menentukan keberadaan asam amino sistein dalm protein. Sistein akan menghasilakan warna merah jika direaksikan dengan nitroprusida dan immoniu berlebih. Molekul protein sendiri merupakan rantai panjang yang tersusun oleh matarantai asam-asam amino. Asam amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil (-COOH) dan satu atau lebih gugus amino (-NH2) yang salah satunya terletak pada atom C (Anonim. 2011).
Protein yang mengandung gugus hidroksil Phenil (- - OH) dapat bereaksi dengan larutan mercuri nitrat dapat menghasilkan larutan atau endapan yang berwarna merah. Tes biuret, Xantoprotein, milon, ninhidrin, sulfur merupakan salah satu cara pengidentifikasian keberadaan asam amino, peptide, dan protein.
Untuk membuktikan kebenaran teori di atas, maka dilakukanlah percobaan tentang reaksi spesifik dalam asam amino, peptide  dan protein.



B. Tujuan
 Membktikan kandungan yang ada pada asam amino, peptide dan protein melalui uji biuret, uji xantoprotein, uji millon, uji ninhidrin, dan uji sulfur.
C. Manfaat
Dapat membuktikan kebenaran dari teori-teori tentang kandunganyang ada pada  asam amino, peptide dan protein melalui uji biuret, uji xantoprotein, uji millon, uji ninhidrin, dan uji sulfur.




















BABII
TINJAUAN PUSTAKA
Sebagian besar ilmu kimia organisme hidup menyangkut 5 golongan senyawa utama, yaitu: karbohidrat, lipida, mineral, asam nukleat dan protein. Protein menentukan kebanyakan sifat-sifat yang ditemukan dalam kehidupan. Protein menentukan metabolisme, membentuk jaringan dan membertikan kemungkinan bagai kita untuk bergerak. Protein juga berfungsi mengangkut senyawa-senyawa dan melindungi kita dari penyebaran mikroorganisme yang merugikan. Bahkan sifat-sifat yang diturunkan oleh suatu organisme untuk membentuk bermacam-macam jenis protein dengan kecepatan yang berbeda (Gilvery, 1996). Selain itu proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu hemoglobin dalam butir darah merah (eritrosit) yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh adalah salah satu jenis protein(Fessenden. 1986).
 Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof) (Fessenden. 1986).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi (Anonim. 2011).
Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida (Girindra, A. 1986).
Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning. Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Rekasi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning. Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan oleh etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein( Hawab. 2004).
Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. (Anonim. 2011).
            Ada sebagian peptida dan protein yang mempunyai gugus asam amino berinti benzena. Seperti fenilanalina, tirosin, albumin, riptofan dan lain sebagainya. Berikut contoh struktur bangun protein yang berinti benzena :

                       
                     —CH2CHCO2OH
                                
        NH2
Feinilanalina (Aninim. 2011).
            Pemeriksaan protein umumnya berdasarkan reaksi warna. Reaksi ini adalah berdasarkan adanya ikatan peptida maupun adanya sifat –sifat tertentu dari asam amino yang di kandungnya (Hala. 2011).
Reaksi Biuret reaksi ini umumnya positif engan adanya perubahan warna  ungu atau merah muda, reaksi xantoprotein asam amino yang mengandung cincin fenil atau inti benzena. Reaksi positif di tandai dengan timbulnya warna kuning, reaksi millon reaksi ini positif karna adanya hidroksifenil, dan reaksi saraguchi apabila positif di tandai dengan timbulnya warna merah setelah bereaksi dengan kalium hipoklorit yang telah di hasilkan dahulu dengan NaOH dan alfa- neftol (Hala. 2011).


BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal         : Kamis, 17 November 2010
Waktu                   : Pukul 09.00 s.d. 11.00 WITA
Tempat                  : Laboratorium Biologi Lantai II Timur FMIPA UNM
  Makassar
B.     Alat dan Bahan
Alat           :
1.      Rak Tabung
2.      Tabung reaksi 5 buah
3.      Bunsen
4.      Penjepit tabung
5.      Korek api
6.      Tissue
Bahan        :
1.      Protein                               11.  NaNO3
2.      Putih telur                         12.  Pb asetat
3.      Asam amino
4.      Ekstrak tempe
5.      Albumin
6.      Aquades
7.      NaOH 40%
8.      CuSO4
9.      HNO3 pekat
10.  Reagen Millon

C.    Prosedur Kerja
Uji Biuret
1.             Menambahkan 1 cc NaOH 10% pada 2 cc larutan protein.
2.             Menambahkan 2-3 tetes larutan CuSO4, akan terjadi warna ungu atau merah bila reaksi positif, warna biru berarti negatif.
3.             Mereaksikan pula pada larutan protein, putih telur, ekstrak tempe, albumin, dan asam amino.
4.             Mengamati perubahan yang terjadi.
Uji Xantoprotein
1.             Menambahkan 1 ml HNO3 pekat pada 2 ml larutan yang diperiksa.
2.             Memanaskan selama 1 menit, kemudian mendinginkan pada air mengalir.
3.             Memasukkan NaOH 40% dalam tabung dengan perlahan-lahan dan hati-hati sampai terlihat perubahan warna.
4.             Menunjukkan reaksi positif apabila warna orange atau kuning pada bidang pembatasan.
5.             Melakukan uji ini pada larutan protein, putih telur, ekstrak tempe, albumin dan asam amino.
Uji Millon
1.             Membuat reagen millon dengan ketentuan sebagai berikut: HgO 100mg dicampur dengan HNO3 pekat 140 cc dalam aquades yang volumenya dua kali lipat.
2.             Mengambil 2 ml zat yang akan diperikasa dan menambahkan beberapa tetes reagen millon.
3.             Mengaduk sampai adanya endapan putih.
4.             Memanaskan dengan hati-hati dan menambahkan NaNO3 setelah dingin, adanya warna merah menunjukkan reaksi positif.
5.             Melakukan uji ini pada larutan protein, putih telur, ekstrak tempe, albumin, dan asam amino. Mengamati perubahan yang terjadi.
Uji Ninhidrine
1.             Menambahkan 10 tetes larutan ninhidrine pada 3 ml larutan protein, putih telur, ekstrak tempe, albumin, dan asam amino.
2.             Memanaskan 1-2 menit.
3.             Mendiamkan sampai dingin hingga membentuk larutan biru. Warna biru terjadi berhubungan reaksi ninhidrin menghasilkan aldehid yang rendah dan melepaskan CO2 dan amoniak.
4.             Mengamati perubahan yang terjadi.
Uji Sulfur
1.       Menambahkan 1 cc NaOH 40% pada 1 cc larutan protein.
2.       Memanaskan selama 1 menit untuk merubah S organik menjadi NaS.
3.       Menambahkan 1 tetes Pb asetat, maka akan terjadi warna coklat atau hitam karena terbentuk PbS.
4.       Melakukan uji ini pada protein, putih telur, ekstrak tempe, albumin, dan asam amino. Mengamati perubahan yang terjadi.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Biuret

No.
Bahan
Reaksi
Perubahan Warna
Positif
Negatif
1.
Protein
-
Biru
2.
Asam amino
-
Biru
3.
Putih telur
-
Ungu
4.
Ekstrak tempe
-
Ungu
5.
Albumin
-
Ungu

Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Xantoprotein

No.
Bahan
Reaksi
Perubahan Warna
Positif
Negatif
1.
Protein
-
Orange tua
2.
Asam amino
-
Kuning tua
3.
Putih telur
-
Kuning
4.
Ekstrak tempe
-
Kuning
5.
Albumin
-
Orange tua




Tabel  3. Hasil Pengamatan Uji Millon

No.
Bahan
Reaksi
Perubahan Warna
Positif
Negatif
1.
Protein
-
Endapan merah
2.
Asam amino
-
Endapan merah
3.
Putih telur
-
Endapan merah
4.
Ekstrak tempe
-
Tidak ada
5.
Albumin
-
Tidak ada

Tabel 4. Hasil Pengamatan Uji Ninhidrine

No.
Bahan
Reaksi
Perubahan Warna
Positif
Negatif
1.
Protein
-
Putih kekuningan
2.
Asam amino
-
Biru
3.
Putih telur
-
Biru
4.
Ekstrak tempe
-
Biru tua
5.
Albumin
-
Putih kekuningan

Tabel 5. Hasil Pengamatan Uji Sulfur

No.
Bahan
Reaksi
Perubahan Warna
Positif
Negatif
1.
Protein
-
Bening
2.
Asam amino
-
Bening
3.
Putih telur
-
Kuning keemasan
4.
Ekstrak tempe
-
Kuning
5.
Albumin
-
Hitam
B. Pembahasan
1. Uji biuret
Percobaan ini menggunakan 5 buah tabung reaksi yang berisi dengan protein, asam amino, albumin, extrak temped an putih telur yang kemudian ditambahkan dengan NaOH 10 % dan 2-3 CuSO4 mengalami perubahan warna yang mana albumin, extrak temped an putih telur berwarna ungu yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung ikatan peptide panjang, menurut (Girindra, A. 1986) Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida, namun pada protein dan asam amino mengalami perubahan warna yaitu bewarna biru yang menandakan negative, mungkin hal ini terjadi karna alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi.
2. Uji Xantoproteat
Uji Xantoproteat menggunakan 5 buah tabung reaksi yang berisi dengan protein, asam amino, albumin, extrak temped an putih telur yang kemudian ditambahkan dengan HNO3 Pekat yang kemudian di panaskan selama kurang lebih 1 menit dan ditambahkan dengan 2-3 larutan CuSO4 secara perlahan menghasilkan perubahan warna pada protein dan albumin orange tua, menurut (Hala. 2011) reaksi warna ini untuk asam amino yang mengandung cincin fenil atau inti benzene, contoh triosin, fenilalanin, dan triptofan. Reaksi positif di tandai dengan timbulnya warna kuning, putih telur dan extak tempe bewarna kuning, danasam amino bewarna kuning tua yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung cincin fenil atau inti benzene.


3. Uji millon
Percobaan ini menggunakan 5 buah tabung reaksi yang berisi dengan protein, asam amino, albumin, extrak temped an putih telur yang kemudian ditambahkan dengan reagen millon, kemudian mengaduk dan memanaskannya, setelah dingin di tambahkan NaNO3 dan menghasilkan endpan berwarna merah untuk protein asam amino dan putih telur yang menandakan positif. , menurut (Hala. 2011) reaksi ini positif karena adanya pengikat Hg dengan gugus hidroksifenil. Reaksi ini dapat di pergunakan untuk menunjukan adanya triosin, dan negative untuk albumin dan extrak tempe mungkin hal ini terjadi karna alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi.
4. Uji Ninhidrin
Uji Ninhidrin menggunakan 5 buah tabung reaksi yang berisi dengan protein, asam amino, albumin, extrak tempe dan putih telur yang kemudian ditambahkan dengan 6-10 tetes Ninhidrin dan kemudian di panaskan dan menghasilkan warna biru dan biru tua untuk asam amino dan putih telur, extrak tempe yang menandakan bahwa reaksi positif menghasilkan aldehid yang rendah karna menurut (Hawab. 2004) Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning dan warna biru, untuk albumin dan protein yang menandakan negative, mungkin hal ini terjadi karna alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi.
5.      Uji Sulfur
Percobaan ini menggunakan 5 buah tabung reaksi yang berisi dengan protein, asam amino, albumin, extrak tempe dan putih telur yang kemudian ditambahkan dengan NaOH 40% dan di panaskan selama kurang lebih 1 menit setelah itu di tambahkan dengan Pb asetat dan terjadi perubahan warna  yaitu putih telur bewarna kuning keemasan, extak tempe bewarna kuning, dan albumin bewarna hitam yang menandakan reaksi positif membentuk PbS. Karna pada reaksi ini sampel yang di gunakan akan berikatan dengan Pb yang mana kemudian membentuk PbS. Sedangkan asam amino dan protein tidak mengalami perubahan warna yang menandakan bahwa reaksi negative, hal ini terjadi mungkin karna alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi.


































BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Setelah kami melakukan  praktikum ini kami dapat menym pulkan bahwa  reaksi asam amino, peptide dan protein sudah terbukti dalam beberapa uji yaitupada uji biuret berwarna ungu yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung ikatan peptide panjang, Uji xantoproteat bewarna kuning, danasam amino bewarna kuning tua yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung cincin fenil atau inti benzene, Uji millon berwarna merah untuk protein asam amino dan putih telur yang menandakan positif, Uji ninhidrin menghasilkan warna biru dan biru tua yang menandakan bahwa reaksi positif menghasilkan aldehid yang rendah, Uji sulfur bewarna hitam yang menandakan reaksi positif membentuk PbS.
B.   Saran
Praktikan yang melakukan pengamatan seharusnya lebih teliti dan cermat sehingga pengamatan yang dilakukan dapat memberi hasil yang memuaskan, serta dibutuhkan kesabaran dan keuletan dalam melaksanakan praktikum ini agar pencapaian tujuan dapat terlaksana.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. protein. http://www.x3-prima.com/2009/05/laporan-protein.html. makassar di akses pada tanggal 23 november 2011.

Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta.

Hawab, HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta : Bayu Media Publishing.

Hala, yusmina. 2011. Penuntun praktikum biokimia umum. Jurusan Biologi,
 FMIPA UNM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar