Jumat, 20 April 2012

Kepemimpinan


Pada zaman reformasi seperti sekarang ini benar-benar sangat dirasakan adanya Pemimpin yang dapat diandalkan, jadi panutan dan dapat mengayomi mereka yang dipimpinnya. Pemimpin yang didambakan tersebut bisa ditingkat nasional, regional maupun Pemimpin oraganisasi yang kecil sekalipun agar gerak organisasi dapat mencapai sasaran yang diinginkan bersama.

Kepemimpinan
Banyak definisi yang telah dibuat untuk menggambarkan seorang pemimpin ataupun kepemimpinan (leadership). Meskipun secara bahasa sering nampak berbeda, namun ada beberapa ciri yang disepakati sebagai karakteristik dasar seorang pemimpin. Dalam tulisan ini saya hanya mengutip salah satu saja dari sekian banyak definisi yang telah dibuat.

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memberi inspirasi dan mempengaruhi pikiran, sikap serta perilaku sekelompok manusia.
Dengan dimikian, seorang yang mempunyai tanggung jawab sangat besar untuk keselamatan banyak orang seperti petugas menara kontrol lalu lintas udara (Air Trafic Control) dilapangan terbang yang mengatur pendaratan maupun lepas landasnya pesawat terbang, tidak dapat dimasukkan sebagai seorang pemimpin. Yang dia kuasai disini hanyalah mesin, meskipun didalamnya terdapat banyak manusia. Jadi, faktor Manusia sangatlah dan paling penting. Betapa hebatpun kemahiran serta penguasaan teknis seseorang, jika tidak mengusai segi manusia, dia tidak akan dapat menjadi pemimpin yang baik dan sukses. Penguasaan akan manusia merupakan ciri pokok dalam kepemimpinan. Dengan kata lain. Seorang yang tidak bisa atau mau mengikut sertakan orang-orang yang dipimpinnya untuk bergandengan tangan merencanakan serta melaksanakan suatu kegiatan, tidak dapat menyandang predikat pemimpin yang baik, betapapun tinggi kedudukannya. Yang dimaksud "Pemimpin" adalah memimpin manusia, yaitu manusia yang mempunyai cita-cita, harapan, impian dan ambisi.
Seni dalam kepemimpinan adalah mengintegrasikan harapan, impian dan ambisi individu ini menjadi bagian dari target bersama atau Organisasi. Pemimpin menciptakan suasana yang kondusif untuk pencapaian serta pengembangan semua kebutuhan tersebut sehingga semua anggota merasa mengambil bagian dari keberhasilan maupun kegagalan suatu kegiatan yang disepakati. Manusia adalah sumber daya utama bagi seorang pemimpin.

Seorang pemimpin yang tidak berusaha menyelami sifat, impian, ambisi, kelemahan dan kelebihan pribadi anggotanya, siaplah untuk gagal. Dia harus dapat mengubah potensi menjadi kenyataan.

Ciri Dasar Seorang Pemimpin

Bagaimana kita memilih seorang Pemimpin ? Apakah gampang kita mencari seorang Pemimpin ? Apakah semua orang pada dasarnya bisa menjadi pemimpin ?. Semua pertanyaan ini adalah nyata. Ada yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi Pemimpin, asal diberi kesempatan. Tetapi ada pula yang berpandangan dan berpendapat bahwa bakat pemimpin dibawa sejak lahir. Dengan kata lain bahwa kemampuan menjadi pemimpin adalah bagian dari bakat. Sesungguhnya kedua pandangan itu benar.
Setiap orang dalam kesempatan tertentu dapat menjadi seorang Pemimpin. Namun untuk menjadi seorang Pemimpin yang baik, sukses dan menonjol, diperlukan bakat tertentu yang lebih besar.
Sama seperti bakat menyanyi, semua orang bisa belajar menyanyi. Sampai taraf tertentu dia bisa meningkatkan kemampuan menyanyinya. Namun untuk menjadi penyanyi profesional yang dikagumi, yang bisa tampil dengan menarik dipanggung, diperlukan lebih dari sekedar ada kesempatan menyanyi saja. Perlu pelatihan. Ini berkembang dengan optimal sehingga membawa hasil yang dikagumi orang. Yang dibandingkan disini bukanlah bakat kepemimpinan, melainkan cuma bakat saja. Kesempatan mengembangkan bakat harus ada. Jika tidak, bakat itu akan terus terpendam bagaikan emas yang terpendam didalam tanah.

Meskipun bukan satu-satunya penentu, bakat tetap merupakan faktor penting dalam menjadi seorang pemimpin

Motivasi
Faktor ini yang sering kita dengar. Sesungguhnya apa yang dimaksud dengan motivasi ? sering ada kekeliruan persepsi mengenai istilah ini. Motivasi merupakan dorongan dari dalam tiap orang untuk melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Dapat diumpamakan nafsu makan. Tidak pernah kita bisa memberikan nafsu makan kepada seseorang. Nafsu makan harus datang dari dalam dirinya sendiri. Dalam sebuah perusahaan, gaji merupakan salah satu motivator bagi karyawan untuk bekerja lebih baik. Namun demikian ada pula yang berpendapat bahwa masih ada motivator lainnya yang lebih kuat dari pada gaji.
Jika anda mengharapkan kesetiaan, kejujuran, minat serta usaha maksimal dari kelompok yang anda pimpin, sebagai pemimpin anda perlu memperhatikan agar anggota :
·         merasa memiliki
·         mengambil bagian dalam perencanaan
·         menyetujui target yang ingin dicapai sebagai realistis
·         ikut ambil bagian dalam membuat peraturan dalam kelompok
·         diberi tanggung jawab yang menantang
·         mengetahui kemajuan yang dicapai
·         memberi kepercayaan kepada pemimpinnya.
Berikan reward pada anggota organisasi yang cakap dan berhasil. Pemberian reward kendalanya dalam suasana yang membanggakan penerima. Pengakuan atas karya yang baik
harus datang dari banyak orang, bukan hanya pemimpin saja. Ini yang memberi perasaan bangga kepada penerimanya. Namun penghargaan bukan hanya berupa materi, tetapi bisa dalam bentuk non materi seperti :
·         pujian dari pemimpin
·         diberi kesempatan memanfaatkan keterampilan dan bakatnya
·         merasa diperlukan
·         diakui sebagai seorang anggota penting dari kelompoknya.
·         kesempatan merasakan pengembangan pribadi serta akreditas intelektual
Semua yang tersebut diatas dapat menimbulkan serta meningkatkan motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu secara optimal.

Penutup
·         Memimpin berarti Memotivir Orang, atau dengan lain perkataan = Kepemimpinan adalah mengubah potensi menjadi Realitas
Seorang pemimpin membuat perencanaan kerja, membuat keputusan dan mengorganisir. Namun demikian semuanya ini tidak menjamin berhasilnya usaha kelompok. Tetapi pemimpin ia harus memotivir kelompoknya untuk mencapai tujuan usaha tersebut, hingga dengan demikian itu, potensi dari kelompok diubah menjadi realitas.
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi kepemimpinan
a. Karakteristik Pribadi Pemimpin :
·         Harus punya taraf intelegensi yang lebih tinggi
·         Kedewasaan sosial dan scope yang luas
·         Mempunyai motivasi dari dalam
·         Pengertian dan sikap positif terhadap orang lain.
  1. Kelompok yang dipimpin
Harus mengenal betul pribadi-pribadi yang dipimpinnya. Mengetahui watak, bakat tabiat dan karakteristik bawaan yang biasanya juga dipengaruhi oleh asal usul daerahnya, latar belakang pendidikan dll. Dengan demikian satu sama lain akan saling menghormati. saling harga menghargai bila sekiranya ada perbedaan pendapat. Namun demikian semua anggota kelompok telah dibuat seia sekata mengerti sasaran target yang hendak dicapai
c. Situasi yang mencakup situasi manusia, fisik dan waktu. Tiap-tiap perubahan situasi membutuhkan perubahan dalam macam kemampuan memimpin. Jadi seorang pemimpin harus fleksibel dan mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri.





























Definisi Kepemimpinan


 

Kepemimpinan mempunyai arti yang berbeda-beda tergantung pada sudut pandang atau perspektif-perspektif dari para peneliti yang bersangkutan, misalnya dari perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik perhatian mereka. Stogdill (1974: 259) menyimpulkan bahwa terdapat hampir sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah orang yang telah mencoba mendefinisikannya. Lebih lanjut, Stogdill (1974: 7-17) menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai konsep manajemen dapat dirumuskan dalam berbagai macam definisi, tergantung dari mana titik tolak pemikirannya. Misalnya, dengan mengutip pendapat beberapa ahli, Paul Hersey dan Kenneth H Blanchard (1977: 83-84) mengemukakan beberapa definisi kepemimpinan, antara lain:

* Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan       penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry)

* Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H.Koontz dan C. O'Donnell)

* Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik).

Untuk lebih mendalami pengertian kepemimpinan, di bawah ini akan dikemukakan beberapa definisi kepemimpinan lainnya seperti yang dikutip oleh Gary Yukl (1996: 2), antara lain:

* Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi (Katz dan Kahn)

* Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan (Rauch dan Behling)

* Kepemimpinan adalah proses memberi arti terhadap usaha kolektif yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs dan Jacques)

Menurut Wahjosumidjo (1984: 26) butir-butir pengertian dari berbagai definisi kepemimpinan, pada hakekatnya memberikan makna :

* Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian, kemampuan, dan kesanggupan.

* Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri

* Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, bawahan dan situasi.





Dari berbagai definisi yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah
* Seni untuk menciptakan kesesuaian paham
* Bentuk persuasi dan inspirasi
* Kepribadian yang mempunyai pengaruh
* Tindakan dan perilaku
* Titik sentral proses kegiatan kelompok
* Hubungan kekuatan/kekuasaan
* Sarana pencapaian tujuan
* Hasil dari interaksi
* Peranan yang dipolakan
* Inisiasi struktur

Berbagai pandangan atau pendapat mengenai batasan atau definisi kepemimpinan di atas, memberikan gambaran bahwa kepemimpinan dilihat dari sudut pendekatan apapun mempunyai sifat universal dan merupakan suatu gejala sosial.

Kriteria Kepemimpinan Masa Depan

M. Amien Rais dalam Sorotan Generasi Muda Muhammadiyah
Editor: Abd. Rohim GhazaliRepublika, 13 Mei 1999
Peresensi: MASMEDIA PINEM

Mungkin kita sudah mengenal ketokohan Amien Rais, namun secara lebih jauh, siapakah jati diri tokoh ini. Seperti apakah kapasitas dan kredibilitas yang dimilikinya, dan apa obsesinya, serta model apakah yang diinginkannya dalam menatap era Indonesia yang baru?
Untuk menjawab semua itu, menarik dicermati berbagai sorotan yang ditujukan kepada Amien Rais yang datang dari Angkatan Muda Muhammadiyah. Tingkah laku Amien dicoba di- sorot secara kritis analitik. Untuk itu buku ini, mencoba melihat Amien Rais dalam tiga tema utama yang menarik.

Pertama, langkah politik Amien Rais, kedua, Amien Rais dan dinamika Muhammadiyah; ketiga, orientasi keagamaan Amien Rais.
Langkah politik Amien Rais. Jauh- jauh hari Amien Rais selalu mengatakan bahwa sudah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan nasional. Tetapi menurut Amien, regenerasi ke- pemimpinan nasional itu bukan hanya satu arah tetapi harus dari dua arah. Pemikirannya yang begitu berani dan melompat jauh ke depan ini banyak mengundang kontroversi di tingkat elite perpolitikan di Indonesia.

Gagasan suksesi dari dua arah ini, juga pemah dilontarkannya di depan para pimpinan Muhammadiyah dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Surabaya tahun 1993. Namun idenya itu terpental dari arena, dan mendapat kritikan tajam dari Lukman Harun sahabatnya dalam organisasi ini. Lukman menentang ide tersebut dengan alasan belum saatnya hal itu diku- mandangkan dan kurang etis. Bahkan, ajakan suksesi tersebut kata Din Syamsuddin hanyalah sebatas dan tak kurang lebih sebagai seruan azan atau mu’azdzin. Menjadi mu’adzin berarti: pertama, tidak akan menjadi imam; kedua, umat Islam helum tentu meresponnya (h 23). Namun sejarahlah yang , membuktikan semua itu kini Amien: pun bukan mu’adzin lagi tetapi ia sudah mendekati untuk menjadi imam.

Meskipun idenya sempat tertunda, Amien Rais tak pernah surut dari peredaran dan tak kenal frustrasi untuk meneruskan niatnya tersebut. Ia melihat permasalahan bangsa ini dengan akal jernih dan mencoba untuk mengedepankan bagaimana ketimpangan yang terjadi seperti kasus Busang, Freeport dan sebagainya. Dengan menyaksikan perjalanan bangsa ini yang sudah tidak sehat lagi Amien pun kembali menyuarakan suksesi agar bisa terjadi pada tahun 1998. Dan dengan konsisten, istiqomah dan disertai dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang dibumbui high politics (politik adiluhung) yang berdasarkan kepada moralitas, maka akhirnya apa disuarakannya dengan lebih cepat dari yang ia perhitungkan terjadi.

Ada beberapa faktor mengapa Amien tidak pemah lelah untuk berge rak: Pertama, sikap istiqomah. Istiqomah (konsisten pada kebenaran) adalah sikap penting di samping memang diajarkan oleh agama Islam yang dianutnya, juga mempunyai fungsi sosial yang besar. Tanpa istiqomah da lam menegakkan kebenaran, maka seseorang tidak akan membuahkan hasil, dan bahkan suatu bangsa akan runtuh. Kedua, kejujuran moral dan intelektual. Tentunya hal ini, harus didasarkan dan diperkuat dengan kesadaran agama, sementara kejujuran intelektual diperoleh melalui perhitungan dan logika rasional ilmiah. Keduanya harus berjalan secara beriringan. Ketiga, nasib Muhammadiyah sepanjang politik Indonesia berbeda dengan organisasi lain. Muhammadiyah tidak pernah menjadi partai politik. Muhammadiyah tetap akan konsisten menjadi ormas Islam yang misinya beramar ma’ruf nahi munkar. Karena fakta inilah, Amien Rais me- rasa tidak pernah memiliki beban da- lam mengingatkan bahwa proses pem- busukan (decay) dalam kehidupan ekonomi, politik, dan hukum telah benar-benar terjadi dan justru dilakukan oleh rezim dan para loyalisnya. (h 41). Langkah politik Amien, jika dicermati secara seksama, manuvernya – baik melalui pernyataan dan tindakan – mengandung nuansa pencerahan bagi generasi mendatang, terutama langkah yang berkenaan dengan persoalan kehidupan berbangsa dan bemegara, selalu lugas, segar, dan menukik.

Amien Rais dan Duuunika Muhammadiyah. Dalam proses perjalanannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah, dengan rendah hati dan tulus, Amien sering mengatakan sebagai "kecela- kaan sejarah" (h 80). Dalam jajaran elite Muhammadiyah Amien menganggap keberadaan dirinya dengan ungkapan primus inter pares. Namun Mitsuo Nakamura menilai secara apresiatif dan optimis dengan kemunculan Amien, adalah sebagai "panggilan zaman". Karier berorganisasi dan.aktivis Amien hingga menjadi nomor satu di Muhammadiyah menjadi fenomena yang menarik. Terjadi pergeseran yang signifikan, dari figur ulama/kiai menjadi cendekiawan intelektual. Nampaknya, pergantian ini akan diikuti juga dengan pergeseran paradigma (shifting paradigm) dalam bermuhammadiyah. Usianya yang tidak terlalu tua, semangat kemajuan, cita-cita pembaharuan, kepedulian, dan idealismenya masih menggebugebu. Sikap kritis yang ditampilkannya tidak terlepas dari latar belakang dan kepribadiannya. Ia sejak kecil dididik dalam religiusitas yang tinggi dan disiplin oleh kedua orang tuanya dalam lingkungan Muhammadiyah. Baginya, sikap kritis itu, tidak lepas dari keberpihakan dan perhatiannya kepada masyarakat banyak dan demi masa depan negara bangsa ini. Bahkan jika kita lihat lebih jauh, fenomena Amien Rais mempunyai linkage dan dalam koridor strategi Muhammadiyah.
Namun dari seluruh gerakan atau ide yang disuarakan oleh Amien Rais, satu hal yang tercecer, yakni, pentingnya reformasi organisasi (tajdid al- nizham) (h 103). Padahal jika dicermati, reformasi organisasi merupakan keniscayaan dalam organisasi besar seperti Muhammadiyah, di samping secara historis merupakan konsekuensi dari reformasi sosial, ekonomi, dan perkembangan amal usaha Muhammadiyah. Nampak jelas, bahwa ada sedikit terjadi terhentinya proses kaderisasi dalam tubuh organisasi Muhammadiyah. Apalagi, sudah menjadi rahasia umum, dalam amal usaha Muhammadiyah masih terdapat praktek KKN. Pertanyaan yang muncul Amien Rais dapat menumbangkan rezim Orde Baru yang penuh KKN, tetapi ia gagal memberantas KKN ke dalam organisasi. Why?

Akan tetapi, keberhasilannya juga tidak bisa dipisahkan dari Muhammadiyah yarig didukung sekitar 28 juta jiwa ada di belakangnya. Dan yang lebih penting dari sekadar dukungan ma- ssa Muhammadiyah adalah Amien telah mampu membuat suatu terobosan pemikiran, yang meminjam istilah Kuntowijoyo, sebagai objektivikasi. Ia berhasil menggali dan mengangkat gagasan-gagasan politik yang berdasarkan Alquran dan Sunnah (h 118).
Orientasi Keagamaan Amien Rais. Tokoh yang dilahirkan di Solo 26 April 1944 ini, bila ditelaah ucapan-ucapannya yang gamblang, sederhana, bahasa yang lugas dan keteguhan dalam berprinsip, ini semua karena semangat keagamaannya yang sangat kental dalam hatinya. Namun,tak jarang juga, orang lain kebakaran jenggot karena ucapanya, membuat gerah kalangan tertentu, bahkan membuat naik pitam segeintir orang. Meskipun demikian, ia pun menjadi korban ucapan dan kelugasan sikapnya. Sebagai contoh, ia (terpaksa turun dari ketua Dewan Pakar ICMI meskipun dapat ia raih kembali.

Etos keagamaan Amien adalah sangat mendalam, sehingga ia tidak pernah gentar menghadapi ketidakadilan, kemunkaran, dan praktek-praktek yang tidak sehat di tubuh negara ini. Tipe Amien bukanlah pengecut. la tidak akan pernah surut mengamalkan ajaran agamanya. Walaupun sering juga ada ancaman dan teror yang dihadapkan kepadanya. Termasuk perintah untuk menangkapnya. Itu semua tak pernah membuat niatnya luntur bahkan menjadi motivasi untuk bergerak lebih lantang.
Kalau kita kaji lebih mendalam sikap dan berbagai gagasan idenya, Amien tidak pernah melepaskannya dari sikap tauhid yang mantap. Sebagai ajaran sentral, tauhid bukan saja mengesakan Allah. Lebih jauh ia mengajak umat Islam untuk menyelami makna universal tauhid itu sendiri. Hampir seluruh bukunya tidak pemah luput dari konsep tauhid ini. Ia memaparkan bahwa dalam konteks pandangan dunia menurut Islam, maka terdapat lima pengertian tauhid.

Pertama, tauhid yang mengandung pengertian kesatuan ketuhanan (unity of’Godhead) yang menjadi pilar ajaran Islam yang paling mendasar. Kedua, kesatuan penciptaan (unity of Creation), bahwa, tidak bisa dipungkiri ; hanya Allah sajalah yang berkuasa , menciptakan segala sesuatu. Ketiga, kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), bahwa manusia sebagai anak ; cucu Adam memiliki kedudukan yang sama di depan Tuhannya, tidak terba- tas kepada etnis, ras, suku, bangsa, dan negara.

Keempat, kesatuan petunjuk atau hidayah (unity of guidance), yang menuntun manusia ke jalan yang dikehen- daki Tuhan, yaitu Islam. Kelima, kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life), di sini harus dipahami secara utuh dan menyeluruh untuk menghasilkan totalitas pengalaman tenaga, daya pikir manusia bertauhid seperti yang dikehendaki Alquran, tidak terkontaminasi paham lain, apalagi menimbulkan sinkretisme beragama.

Terlepas dari sikap tauhidnya itu, ia juga dipengaruhi oleh tradisi pemikiran KHA Dahlan yang meyakini firman Allah yang terdapat dalam kitab suci Alquran yang berisikan perintah agar, manusia berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran secara ber sama-sama atau terorganisasi dapat memperoleh kebahagiaan (QS 3: 104). Sehingga, ada kesadaran kebertuhanan (God-Consciousness) yang sejiwa dengan terma rabbaniyah dan ribbiyah, yaitu segala sikap dan aktivitas individu, disadari sepenuh hati berada dalam pengawasan Tuhan. Maka, "kesadaran ketuhanan" ini, menurut Muhammad Asad, adalah kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Maha Hadir (omnipresent) dan kesediaan untuk menyesuaikan keberadaan diri seseorang di bawah cahaya kesadaran itu (h 146).

Begitulah buku ini menyoriti seorang tokoh Amien Rais dari berbagai kumpulan tulisan yang datang dari angkatan Muda Muhammadiyah, yang dikaji secara kritis-analitis. Atau buku ini lebih merupakan sebuah "kado" dari anak untuk "Bapak" sebagaimana diungkapkan oleh editor buku ini. Di dalam tulisan ini mencoba melihat Amien dari latar belakang hidupnya sampai kesediaannya menjadi presiden. Kritikan yang tajam misalnya menyebutkan bahwa Amien kurang ramah, otoriter, dan egois (h 90). Namun ini lumrah saja. Amien adalah manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dan lebih jauh buku ini dipersiapkan untuk para pemimpin masa depan yang seyogianya tidak akan pernah lagi mentabukan suatu kritikan. Atau seperti yang diungkapkan oleh Baharuddin Lopa, pemimpin masa depan adalah "terbiasa dikritik". Siapkah kita untuk dikritik dan berbeda pendapat. Pemimpin yang siap dikritik dan menerima perbedaan pendapat yang akan lulus untuk pemimpin masa yang akan datang. Adakah tokoh di Indonesia yang pendapat-pendapatnya siap dikritik? Kalau ada, apakah sang tokoh itu kemudian mampu mengembangkan sikap terbuka dan lapang dada menerima kritikan. Semoga.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar