Jumat, 20 April 2012

Pengertian Filsafat


Kata Pengantar
Puji syukur penulis telah panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan beserta seperangkat aturan-Nya, karena berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tema FILSAFAT ILMUyang sederhana ini dapat terselesaikan tidak kurang daripada waktunya.
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk memenuhi salah satu dari sekian kewajiban mata kuliah Filsafat Ilmu serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Filsafat Ilmu serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar bawasannya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Tuhan Azza Wa’jala hingga dalam penulisan dan penyusununnya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penulis nanti dalam upaya evaluasi diri.
Akhirnya penulis hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidak sempurnaan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penulis, pembaca, dan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi Universitas Negeri Surabaya. Amien ya Rabbal ‘alamin.

                                                                                        
BAB I
PENGERTIAN FILSAFAT


Pemikiran Para Ahli Filsafat Yunani Kuno

Kata fals afah ataufils afat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa
Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani;philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan
kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia =
"kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata
filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih
mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah
disebut "filsuf".
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli :
1.Prof. Mr.Mumahamd Yamin:
Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya
didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
2.Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. :
Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
3.Harold H. Titus (1979 ) :
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang
biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran
Istilah filsafat memiliki cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan. Para filsuf alam mengemukakan pandangannya tentang dasar atau asal mula segala sesuatu serta peristiwa yang terdapat dalam alam ini. Asal atau dasar segala sesuatu ialah air menurut Thales, udara menurut Anaximenes, api menurut Herakleitos, bilangan atau angka menurut pendapat Phytagoras, atom-atom dan ruang kosong menurut pendapat Leukippos dan Demokritos, dan empat unsur utama menurut pendapat Empedokles. Pandangan lain dikemukakan oleh tiga orang filsuf besar, yaitu Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Bagi Sokrates yang merupakan asas hidup manusia adalah jiwa. Plato berpendapat adanya dunia ide yang merupakan dasar dari segala realitas yang tampak, sedangkan Aristoteles mengemukakan pentingnya logika bagi perkembangan pemikiran manusia menuju kepada kebenaran.
Kajian Filsafat
Definisi kata filsafat bisa dikatakan sebagai sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan mendasar (radikal).
Kerapkali ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di awang-awang (tidak mendarat) saja, padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Benar, filsafat bersifat tidak konkrit (atau lebih bisa dikatakan tidak tunggal), karena menggunakan metode berpikir sebagai cara pergulatannya dengan realitas hidup kita.
Ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), filsafat merupakan pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Beberapa filsuf mengajukan beberapa definitif pokok filsafat seperti: Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas. Upaya untuk melukiskan hakekat realitas akhir dan dasar serta nyata, Upaya untuk menentukan batas-batas jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya. Penyelidikan kritis dan radikal atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Sesuatu yang berupaya untuk membantu kita melihat apa yang kita katakan dan untuk mengatakan apa yang kita lihat.
Kalau menurut tradisi filsafati yang diambil dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), setelah dia membaca tulisan Herakleides Pontikos (penganut ajaran Aristoteles) yang memakai kata sophia. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia (Φιλοσοφία) Dalam bahasa ini, kata tersebut merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.
Dalam istilah Inggris, philosophy, yang berarti filsafat, juga berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan ke dalam bahasa tersebut sebagai cinta kearifan. Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu, filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).
Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti semesta dalam hal makna (hakikat) dan nilai-nilainya (esensi) yang tidak cukup dijangkau hanya dengan panca indera manusia sekalipun.Bidang filsafat sangatlah luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya. Filsafat menggunakan bahan-bahan dasar deskriptif yang disajikan bidang-bidang studi khusus dan melampaui deskripsi tersebut dengan menyelidiki atau menanyakan sifat dasarnya, nila-nilainya dan kemungkinannya.Tujuannya adalah pemahaman dan kebijaksanaan. Karena itulah filsafat merupakan pendekatan yang menyeluruh terhadap kehidupan dan dunia. Suatu bidang yang berhubungan erat dengan bidang-bidang pokok pengalaman manusia.

Beberapa Pandangan dan Cabang Filsafat
Pandangan idealisme menyatakan bahwa realitas yang tampak oleh indera manusia adalah bayangan dari ide atau idea yang merupakan realitas yang fundamental. Implikasi dari pandangan ini ialah adanya kecenderungan dari kelompok yang mengikutinya untuk menghormati budaya dan tradisi serta hal-hal yang bersifat spiritual. Humanisme memiliki dua arah, yakni humanisme individu dan humanisme sosial. Humanisme individu mengutamakan kemerdekaan berpikir, mengemukakan pendapat, dan berbagai aktivitas yang kreatif. Kemampuan ini disalurkan melalui kesenian, kesusastraan, musik, teknologi, dan penguasaan tentang ilmu kealaman. Humanisme sosial mengutamakan pendidikan bagi masyarakat keseluruhan untuk kesejahteraan sosial dan perbaikan hubungan antarmanusia. Aliran empirisme berpandangan bahwa pernyataan yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman adalah tanpa arti. Ilmu harus dapat diuji melalui pengalaman. Dengan demikian kebenaran yang diperoleh bersifat a posteriori yang berarti post to experience. Para penganut rasionalisme berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal) seseorang. Kritisisme menjembatani kedua pandangan yaitu rasionalisme dan empirisme. Empirisme menghasilkan keputusan-keputusan yang bersifat sintetis yang tidak bersifat mutlak, sedangkan rasionalisme memberikan keputusan yang bersifat analitis. Berpikir merupakan proses penyusunan keputusan yang terdiri dari subjek dan predikat. Konstruktivisme intinya adalah bahwa pengetahuan seseorang itu merupakan hasil konstruksi individu melalui interaksinya dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Filsafat dibagi dalam beberapa cabang atau bagian filsafat, yaitu epistemologi, metafisika, logika, etika, estetika, dan filsafat ilmu. Epistemologi membahas hal-hal yang bersifat mendasar tentang pengetahuan. Metafisika dikemukakan oleh Andronikos dari kumpulan tulisan Aristoteles yang membahas hakikat berbagai realitas yang diamati oleh manusia dalam dunia nyata. Logika menekankan pentingnya penalaran dalam upaya menuju kepada kebenaran. Etika disebut juga sebagai filsafat moral karena menitikberatkan pembahasannya pada masalah baik dan buruk, kesusilaan dalam kehidupan masyarakat. Estetika menekankan pada pembahasan keindahan, sedangkan filsafat llmu membahas hakikat ilmu, penerapan metode filsafat untuk menemukan alas realitas yang dipersoalkan oleh ilmu.
A.  Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani”philosophia”. Seiring perkembangan zaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Selanjutnya, beberapa ahli coba mendefinisikan arti dari filsafat itu, antara lain :
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang dimasalahkan, dengan berpikir radikal, sistematik dan universal.
  Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
-  Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.

Dari beberapa definisi di atas,
saya dapat menyimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu yang mengkaji tentang suatu hal secara mendetail atau mendalam dan juga sistematis untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki.

B.   Ruang Lingkup Filsafat
Bidang garapan Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen?komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai­mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing?masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand), akal budi (Vernunft) pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model?model epistemologik seperti: rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula b
agai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.
Akslologi llmu meliputi nilai-nilal (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasansimbolik atau pun fisik?material. Lebih dari itu nilai?nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.
Dalam perkembangannya Filsafat llmu juga mengarahkan pandangannya pada Strategi Pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampal pada dimensi ke­budayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau keman­faatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan.

FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997). Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.
Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.

EPISTEMOLOGI
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Bila Kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.
Dengan memperhatikan definisi epistemologi, bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu, makrifat dan pengetahuan. Dalam hal ini, dua poin penting akan dijelaskan:
1.      Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu.
2.      Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan   
      makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat  
      juga dikaji dalam ontologi, logika, dan psikologi. Dalam epistemologi akan
      dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan observasi
      ilmu, dan batasan-batasan pengetahuan. Dan dari sisi ini, ilmu hushûlî dan
      ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Dengan
      demikian, ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan
      pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi.           
Dengan demikian, definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia.
 ONTOLOGI
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di pahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Dengan demikian Ontologi Ilmu (dimensi ontologi Ilmu) adalah Ilmu yang mengkaji wujud  (being) dalam  perspektif ilmu — ontologi ilmu dapat dimaknai sebagai teori tentang wujud dalam perspektif objek materil ke-Ilmuan, konsep-konsep penting yang diasumsikan oleh ilmu ditelaah secara kritis dalam ontologi ilmu.
Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

AKSIOLOGI
n  Axios   =          Nilai (Value)
n  Logi     =          Ilmu
n  Axiologi adalah ilmu yang mengkaji tentang nilai-nilai.
Axiologi (teori tentang nilai) sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahu manusia
Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?
Dengan demikian Aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu (Wibisono, 2001)








BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
Sejarah ilmu pengetahuan adalah studi tentang sejarah perkembangan pemahaman manusia dari alam  Sampai akhir abad 20 sejarah ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu fisik dan biologi, dipandang sebagai narasi merayakan kemenangan teori benar atas salah. Science was portrayed as a major dimension of the progress of civilization. Ilmu digambarkan sebagai dimensi utama dari kemajuan peradaban. In recent decades, postmodern views, especially influenced by Thomas Kuhn , The Structure of Scientific Revolutions (1962), the history is seen in terms of competing paradigms or conceptual systems battling for intellectual supremacy in a wider matrix that includes intellectual, cultural, economic and political themes outside pure science. Pada dekade belakangan ini, pandangan postmodern, terutama dipengaruhi oleh Thomas Kuhn , Struktur Scientific Revolutions (1962), sejarah dilihat dari segi paradigma bersaing atau sistem konseptual berjuang untuk supremasi intelektual dalam matriks yang lebih luas yang mencakup intelektual, budaya, ekonomi dan tema politik luar sains murni. New attention is paid to science outside the context of Western Europe. Baru perhatian yang dibayarkan kepada ilmu di luar konteks Eropa Barat.
Ilmu adalah tubuh empiris , teoritis , dan praktis pengetahuan tentang dunia alam , yang dihasilkan oleh para peneliti memanfaatkan metode ilmiah , yang menekankan pengamatan, penjelasan , dan prediksi dunia nyata fenomena oleh eksperimen Mengingat dua status ilmu sebagai tujuan pengetahuan dan sebagai membangun, baik manusia historiografi ilmu mengacu pada metode sejarah dari kedua sejarah intelektual dan sejarah sosial .
Menelusuri asal-usul yang tepat dari ilmu pengetahuan modern adalah mungkin melalui teks penting banyak yang selamat dari dunia klasik. However, the word scientist is relatively recent—first coined by William Whewell in the 19th century. Namun, kata ilmuwan relatif baru-pertama kali dicetuskan oleh William Whewell pada abad ke-19.
Sementara empiris investigasi dari dunia alam telah dijelaskan sejak zaman klasik (misalnya, dengan Thales , Aristoteles , dan lain-lain), dan metode ilmiah telah digunakan sejak Abad Pertengahan (misalnya, oleh Ibn al-Haytham , Abu Rayhan al- Biruni dan Roger Bacon ), fajar sains modern umumnya ditelusuri kembali ke masa modern awal , selama apa yang dikenal sebagai Revolusi Ilmiah yang terjadi di abad ke-17 Eropa dan 16.
Metode ilmiah dianggap begitu penting untuk ilmu pengetahuan modern bahwa beberapa - terutama filsuf ilmu pengetahuan dan berlatih ilmuwan - mempertimbangkan pertanyaan sebelumnya ke alam menjadi pra-ilmiah. Secara tradisional, sejarawan ilmu telah mendefinisikan ilmu pengetahuan cukup luas untuk mencakup mereka pertanyaan. [1]
Munculnya Filsafat
Akibat dari berkembangnya kesusasteraan Yunani dan masuknya ilmu pengetahuan serta semakin hilangnya kepercayaan akan kebenaran yang diberikan oleh pemikiran keagamaan, peran mitologi yang sebelumnya mengikat segala aspek pemikiran kemudian secara perlahan-lahan digantikan oleh logos (rasio/ ilmu).
Pada saat inilah, para filsofof kemudian mencoba memandang dunia dengan cara yang lain yang belum pernah dipraktekkan sebelumnya, yaitu berpikir secara ilmiah. Dalam mencari keterangan tentang alam semesta, mereka melepaskan diri dari hal-hal mistis yang secara turun-temurun diwariskan oleh tradisi. Dan selanjutnya mereka mulai berpikir sendiri. Di balik aneka kejadian yang diamati secara umum, mereka mulai mencari suatu keterangan yang memungkinkan mereka mampu mengerti kejadian-kejadian itu. Dalam artian inilah, mulai ada kesadaran untuk mendekati problem dan kejadian alam semesta secara logis dan rasional.
Sebab hanya dengan cara semacam ini, terbukalah kemungkinan bagi pertanyaan-pertanyaan lain dan penilaian serta kritik dalam memahami alam semesta. Semangat inilah yang memunculkan filosof-filosof pada jaman Yunani. Filsafat dan ilmu menjadi satu.
Filsafat, terutama Filsafat Barat, muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berfikir-fikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama pada saat itu yang dianggap sebagai “tirai besi keilmuan” lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang berberadaban lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Sejarah Perkembangan Awal Filsafat Dunia
Meski istilah philosophia (Φιλοσοφία) pertama kali dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta (sekarang di pesisir barat Turki). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Dalam buku History and Philosophy of Science karangan L.W.H. Hull (1950), menulis setidaknya sejarah filsafat dan ilmu dapat dibagi dalam beberapa periode, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.
Periode pertama, filsafat Yunani abad 6 SM
Pada masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes yang dianggap sebagai bapak-bapak fisafat dari Mileta. Thales berpendapat bahwa sumber kehidupan adalah air. Makhluk yang pertama kali hidup adalah ikan dan menusia yang pertama kali terlahir dari perut ikan. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.
Setelah mereka bertiga, Yunani kemudian memiliki pemikir-pemikir terkenal yang lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Phythagoras, Hypocrates, dan lain sebagainya.
Periode Kedua, Periode setelah kelahiran Al Masih (Abad 0-6 M)
Pada masa ini pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan menjadi sumber kebenaran.
Periode Ketiga, Periode kejayaan Islam (Abad 6-13 M)
Pada masa ini dunia Kristen Eropa mengalami abad kegelapan, ada juga yang menyatakan periode ini sebagai periode pertengahan. Masa keemasan atau kebangkitan Islam ditandai dengan banyaknya ilmuan-ilmuan Islam yang ahli dibidang masing-masing, berbagai buku inilah diterbitkan dan ditulis. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali yang ahli dalam hokum Islam, Al-farabi ahli astronomi dan matematika, Ibnu Sina ahli kedokteran dengan buku terkenalnya yaitu The Canon of Medicine. Al-kindi ahli filsafat, Al-ghazali intelek yang meramu berbagai ilmu sehingga menjadi kesatuan dan kesinambungan dan mensintesis antara agama, filsafat, mistik dan sufisme . Ibnu Khaldun ahali sosiologi, filsafat sejarah, politik, ekonomi, social dan kenegaraan. Anzahel ahli dan penemu teori peredaran planet. Tetapi setelah perang salib terjadi umat Islam mengalami kemundurran, umat Islam dalam keadaan porak-poranda oleh berbagai peperangan.
Terdapat 2 pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354 – 430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480 – 524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.
Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates (469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M. Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.
Periode Keempat, Periode kebangkitan Eropa (Abad 12-17)
Bersamaannya dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropah mengalami kebangkitan. Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropah. Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun 1130 – 1150 M. Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia. Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.
Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.
Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam mulai berkembang lagi. Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin. Pada tahun 1217 Frederick II mengutus Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslimin. Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rushd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot. Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar Ibnu Rushd dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab Anima.
Periode Filsafat Modern (Abad 17-20 M)
Dikenal Juga sebagai abad Äufklarung. Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran, dan juga awal abad kemunduran bagi umat Islam. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur pemikiran yang mereka anut adalah rasionalitas, empirisrme, dan Kritisme. Peradaban Eropa bangkit melampaui dunia islam. Masa ini juga memunculkan intelektual Gerard Van Cromona yang menyalin buku Ibnu Sina, ”The canon of medicine”, Fransiscan Roger Bacon, yang menganut aliran pemikiran empirisme dan realisme berusaha menentang berbagai kebijakan gereja dan penguasa pada waktu itu. Dalam hal ini Galileo dan Copernicus juga mengalami penindasan dari penguasa. Masa ini juga menyebabkan perpecahan dalam agama Kristen, yaitu Kristen Katolik dan Protestan. Perlawanan terhadap gereja dan raja yang menindas terus berlangsung Revolusi ilmu pengetahuan makin gencar dan meningkat. Pada masa ini banyak muncul para ilmuwan seperti Newton dengan teori gravitasinya, John Locke yang menghembuskan perlawanan kepada pihak gereja dengan mengemukakan bahwa manusia bebas untuk berbicara, bebas mengeluarkan pendapat, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, serta hak berfikir. Hal serupa juga dilakuklan ole J.J .Rousseau mengecam penguasa dalam bukunya yang berjudul Social Contak.
Hal berbeda terjadi didunai Islam, pada masa ini umat Islam tertatih untuk bangkit dari keterpurukan spiritual. Intelektual Islam yang gigih menyeru umat Islam untuk kembali pada ajaran al-Quran dan Hadis. Pada masa krisis moral dan peradaban muncul ilmuwan lainnya yaitu Muhammad Abduh. Muhammad Abduh berusaha membangkitkan umat Islam untuk menggunakan akalnya. Ia berusaha mengikis habis taklid. Hal tersebut dilakukan oleh Muhammad Abduh agara umat Islam menemukan ilmu yang berasal dari al-Quran dan hadis.
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.
Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”. Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir ( menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. — Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah” — “clearly and distinctly”, “clara et distincta”. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.
Adapun Kritisisme oleh Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia “itu sendiri” (”das Ding an sich”), namun hanya dunia itu seperti tampak “bagiku”, atau “bagi semua orang”. Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan. Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.
Begitulah pergulatan antar aliran filsafat Modern. Rasionalist diwakili Descartes, Empirist diwakili Hume, dan Kritisme oleh Kant saling menkritik satu sama lain.
Masyarakat primitif menganut pemikiran mitosentris yang mengandalkan mitos guna menjelaskan fenomena alam. Perubahan pola pikir dari mitosentris menjadi logo-sentris membuat manusia bisa membedakan kondisi riil dan ilusi, sehingga mampu ke-luar dari mitologi dan memperoleh dasar pengetahuan ilmiah. Ini adalah titik awal ma-nusia menggunakan rasio untuk meneliti serta mempertanyakan dirinya dan alam raya. 1. Filsafat kuno dan abad pertengahan Di masa ini, pertanyaan tentang asal usul alam mulai dijawab dengan pendekat-an rasional, tidak dengan mitos. Subjek (manusia) mulai mengambil jarak dari objek (alam) sehingga kerja logika (akal pikiran) mulai dominan. Sebelum era Socrates, kaji-an difokuskan pada alam yang berlandaskan spekulasi metafisik. Menurut Heraklitos (535-475 SM), realita di alam selalu berubah, tidak ada yang tetap (api sebagai simbol perubahan di alam) sementara Parmenides (515-440 SM) mengatakan bahwa realita di alam merupakan satu kesatuan yang tidak bergerak sehingga perubahan tidak mungkin terjadi. Pada era Socrates, kajian filosofis mulai menjurus pada manusia dan mulai ada pemikiran bahwa tidak ada kebenaran yang absolut. Beberapa filosof populernya adalah Socrates (479-399 SM), Plato (427-437 SM) dan Aristotles (384-322 SM). Socrates mendefinisikan, menganalisis dan mensintesa kebenaran objektif yang universal melalui metode dialog (dialektika). Satu pertanyaan dijawab dengan satu jawaban. Plato mengembangkan konsep dualisme (adanya bentuk dan persepsi). Ide yang ditangkap oleh pikiran (persepsi) lebih nyata dari objek material (bentuk) yang dilihat indra. Sifat persepsi tidak tetap dan bisa berubah, sementara bentuk adalah sesuatu yang tetap. Aris-totles menyatakan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Fil-suf ini juga memperkenalkan silogisme, yaitu penggunaan logika berdasarkan analisis bahasa guna menarik kesimpulan. Silogisme memiliki dua premis mayor dan satu ke-simpulan sehingga, suatu pernyataan benar harus sesuai dengan minimal dua pernyataan pendukung. Logika ini disebut juga dengan logika deduktif yang mengukur valid tidak-nya sebuah pemikiran. Pada abad pertengahan (abad 12–13 SM) mulai dilakukan analisis rasional terha-dap sifat-sifat alam dan Allah, analisis suatu kejadian/materi, bentuk, ketidaknampakan, logika dan bahasa. Salah satu filsufnya adalah Thomas Aquinas (1225-1274). 2. Filsafat modern (abad 15 – sekarang) Berkembang beberapa paham yang menguatkan kedudukan humanisme sebagai dasar dalam perkembangan hidup manusia dan pengetahuan. Paham rasionalisme me-nyatakan bahwa akal merupakan alat terpenting untuk memperoleh dan menguji penge-tahuan. Kedaulatan rasio diakui sepenuhnya dengan menyisihkan pengetahuan indra. Menurut Rene Descartes (paham rasionalisme dan skeptisme), pengetahuan yang benar harus berangkat dari kepastian. Untuk memastikan kebenaran sesuatu, segala sesuatu harus diragukan terlebih dahulu. Keragu-raguan membuat manusia bertanya/mencari ja-waban untuk memperoleh kebenaran yang pasti (manusia harus berpikir rasional untuk mencapai kebenaran). Pada paham empirisme, segala sesuatu yang ada dalam pikiran didahului oleh pengalaman indrawi. Pengetahuan dikembangkan dari pengalaman indra secara konkrit dan bukan dari rasio. Menurut John Locke (empirisme dan naturalisme), pikiran awal-nya kosong. Isi pikiran (ide) berasal dari pengalaman indrawi (lahiriah dan batiniah) ter-hadap substansi (benda) di alam. David Hume (skeptisme dan empirisme) mengatakan ide atau konsep didalam pikiran berasal dari persepsi (kesan terhadap pengalaman indra-wi) dan gagasan (konsep makna dari kesan) terhadap suatu substansi, bukan dari substansinya. Sementara menurut Francis Bacon, pengetahuan merupakan kekuatan un-tuk menguasai alam. Pengetahuan diperoleh dengan metode induksi melalui eksperi-men dan observasi terhadap suatu fenomena yang ingin dikaji. Paham lainnya adalah idealisme yang dianut Barkeley: ada disebabkan oleh adanya persepsi; dan paham idealisme – kritisisme yang dikembangkan Imanuel Kant. Menurut Kant, hakikat fisik adalah jiwa (spirit) dan pengetahuan adalah hasil pemikiran yang dihubungkan dengan pengalaman indrawi. Paham ini menggabungkan konsep rasionalisme dengan empiris-me. Paham positive-empiris (Aguste Comte) menyatakan bahwa realita berjalan sesuai dengan hukum alam sehingga pernyataan pengetahuan harus bisa diamati, diulang, diu-kur, diuji dan diramalkan. Sementara paham pragmatisme William James menyatakan kebenaran suatu pernyataan diukur dari kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional (bermanfaat) dalam kehidupan praktis. Pernyataan dianggap benar jika kon-sekuensi dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis bagi manusia.
Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.
Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
B. Klasifikasi Filsafat
Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”. Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam”, “Filsafat Budha”, “Filsafat Hindu”, dan “Filsafat Kristen”.
1.) Klasifikasi Filsafat Menurut Wilayah
Filsafat Barat
‘‘‘Filsafat Barat’’’ adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Namun pada hakikatnya, tradisi falsafi Yunani sebenarnya sempat mengalami pemutusan rantai ketika salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropah, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam pada dinasti Abbasyah.
Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, George Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
Dalam tradisi filsafat Barat di Indonesia sendiri yang notabene-nya adalah bekas jajahan bangsa Eropa-Belanda, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Tema-tema tersebut adalah: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Tema pertama adalah ontologi. Ontologi membahas tentang masalah “keberadaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata), misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup, atau tata surya.
Tema kedua adalah epistemologi. Epistemologi adalah tema yang mengkaji tentang pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.
Tema ketiga adalah aksiolgi. Aksiologi yaitu tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia. Nilai sosial .
Filsafat Timur
‘‘‘Filsafat Timur’’’ adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Siddharta Gautama/Buddha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong.
‘‘‘Filsafat Timur Tengah’’’ ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat dari sejarah, para filsuf dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Yunani. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafi mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani.
Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah: Avicenna(Ibnu Sina), Ibnu Tufail, Kahlil Gibran (aliran romantisme; kalau boleh disebut bergitu)dan Averroes.
2.) Klasifikasi Filsafat Menurut Latar Belakang Agama
a. Filsafat Islam
‘‘‘Filsafat Islam’’’ bukanlah filsafat Timur Tengah. Bila memang disebut ada beberapa nama Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Timur Tengah, dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ’sudah ditemukan.’
Pada mulanya filsafat berkembang di pesisir samudera Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 M yang ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia, dan Tuhan. Dari sinilah lahirlah sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika, dan metafisika yang menjadi batubara kebudayaan dunia.
Dari Asia Minor (Mediterania) bergerak menuju Athena yang menjadi tanah air filsafat. Ketika Iskandariah didirikan oleh Iskandar Agung pada 332 SM, filsafat mulai merambah dunia timur, dan berpuncak pada 529 M.
b. Filsafat Kristen
‘‘‘Filsafat Kristen’’’ mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Tak heran, filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas, Santo Bonaventura, dan lain sebagainya.
Selain dua agama terbesar diatas, masih ada beberapa agama lainya yang melahirkan pemahaman falsafi yang sampai sekarang masih eksis. Misalnya Budha, Taoisme, dan lain sebagainya.
Buddha dalam bahasa Sansekerta berarti mereka yang sadar, atau yang mencapai pencerahan sejati (Dari perkataan Sansekerta: untuk mengetahui). Budha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh mereka untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, ia sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama yang dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.
Sidharta adalah guru agama dan pendiri Agama Buddha (dianggap “Buddha bagi waktu ini”). Dalam pandangan lainnya, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.
Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai sang hyang Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui Kesadaran, datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan. Pencapaian nirwana (nibbana) di antara ketiga jenis Buddha adalah serupa, tetapi Samma-Sambuddha menekankan lebih kepada kualitas dan usaha dibandingkan dengan dua lainnya.
Taoisme merupakan filsafat Laozi dan Zhuangzi (570 SM ~470 SM) tetapi bukan agama. Taoisme berasalkan dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia. Dao yang wujud dalam kesemua benda hidup dan kebendaan adalah “De”. Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme merupakan asasi alamiah. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan berabadi. Keabadian manusia adalah apabila seseorang mencapai “Kesedaran Dao”. Penganut-penganut Taoisme mempraktekan Dao untuk mencapai “Kesedaran Dao” dan juga mendewakan.

Sains di dunia Islam

ilmuwan Muslim ditempatkan jauh lebih besar penekanan pada percobaan daripada memiliki Yunani . [49] Hal ini mengarah ke awal metode ilmiah yang dikembangkan di dunia Muslim, di mana kemajuan yang signifikan dalam metodologi dibuat, dimulai dengan percobaan dari Ibn al-Haytham (Alhazen) pada optik dari sekitar tahun 1000, dalam bukunya Kitab Optik . Yang penting pembangunan sebagian besar metode ilmiah adalah penggunaan eksperimen untuk membedakan antara teori-teori ilmiah menetapkan bersaing dalam umumnya empiris orientasi, yang dimulai di kalangan ilmuwan Muslim. Ibn al-Haytham juga dianggap sebagai bapak optik, terutama untuk bukti empiris tentang teori intromission cahaya. Some have also described Ibn al-Haytham as the "first scientist" for his development of the modern scientific method. [ 50 ] Beberapa juga menggambarkan Ibn al-Haytham sebagai "ilmuwan pertama" untuk pengembangan metode ilmiah modern. [50]
Dalam matematika , yang Persia matematikawan Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi memberikan nama kepada konsep algoritma , sedangkan istilah aljabar berasal dari al-Jabr, awal dari judul salah satu publikasinya. Apa yang sekarang dikenal sebagai angka Arab aslinya berasal dari India, tetapi matematikawan Muslim memang membuat beberapa perbaikan sistem bilangan, seperti pengenalan titik desimal notasi. Sabian matematika Al-Battani (850-929) memberikan kontribusi untuk astronomi dan matematika, sedangkan Persia sarjana Al-Razi memberikan kontribusi untuk kimia dan obat-obatan.
Dalam astronomi , Al-Battani meningkatkan pengukuran Hipparchus , diawetkan dalam terjemahan Ptolemy 's Dia Megalè sintaks (The risalah besar) diterjemahkan sebagai Almagest . Al-Battani juga meningkatkan ketepatan pengukuran presesi sumbu bumi
kimiawan Muslim dan ahli alkimia memainkan peran penting dalam dasar modern kimia . Scholars such as Will Durant [ 58 ] and Fielding H. Garrison [ 59 ] considered Muslim chemists to be the founders of chemistry. Cendekiawan seperti Will Durant [58] dan Fielding H. Garrison [59] dianggap kimiawan Muslim sebagai pendiri kimia. In particular, [ 63 ] Secara khusus, Jabir bin Hayyan adalah "dianggap oleh banyak untuk menjadi ayah dari kimia". [60] [61] Karya-karya ilmuwan Arab dipengaruhi Roger Bacon (yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa, sangat dipengaruhi dengan membaca tentang penulis Arab ), [62] dan kemudian Isaac Newton . [63]
Ibnu Sina ( Avicenna ) dianggap sebagai ilmuwan yang paling berpengaruh dan filsuf dalam Islam. [64] Ia merintis ilmu kedokteran eksperimental [65] dan merupakan dokter pertama yang melakukan uji klinis. [66] dua-karya paling penting dalam pengobatan adalah al-Shifa ʾ Kitab ("Buku Penyembuhan") dan The Canon of Medicine , yang keduanya digunakan sebagai obat teks standar baik di dunia Muslim dan di Eropa hingga abad ke 17. [ 67 ] nya banyak kontribusi antara adalah penemuan sifat menular penyakit menular, [65] dan pengenalan farmakologi klinis. [67]
Beberapa dari para ilmuwan terkenal lain dari dunia Islam termasuk al-Farabi ( polymath ), Abu al-Qasim (perintis bedah ), [68] Abu al-Biruni RayhānMaghreb (pelopor indologi , [69] geodesi dan antropologi ), [ 70] Nasir al-Din al-Tusi (polymath), dan Ibnu Khaldun (pendahulu dari ilmu-ilmu sosial [71] seperti demografi , [72] sejarah budaya , [73] historiografi , [74] filsafat sejarah dan sosiologi ), [ 75] di antara banyak lainnya.
[ 76 ] ilmu Islam mulai menurun dalam abad ke-12 atau 13, dalam hubungannya dengan Renaisans di Eropa, dan karena sebagian untuk abad ke-13 11 penaklukan Mongol , di mana perpustakaan, observatorium, rumah sakit dan universitas yang hancur. [76] Akhir dari zaman keemasan Islam ditandai dengan penghancuran pusat intelektual Baghdad , ibukota kekhalifahan Abbasiyah pada tahun 1258. [76]
Sebuah revitalisasi intelektual Eropa dimulai dengan lahirnya universitas abad pertengahan pada abad ke-12. Kontak dengan dunia Islam di Spanyol dan Sisilia , dan selama Reconquista dan Perang Salib , diperbolehkan akses Eropa untuk ilmiah Yunani dan Arab teks, termasuk karya Aristoteles , Ptolemeus , Jabir bin Hayyan , al-Khawarizmi , Alhazen , Ibnu Sina , dan Averroes . sarjana Eropa memiliki akses ke program terjemahan Raymond dari Toledo , yang disponsori abad ke-12 Toledo School of Translators dari bahasa Arab ke Latin. Later translators like Michael Scotus would learn Arabic in order to study these texts directly. Kemudian penerjemah seperti Michael Scotus akan belajar bahasa Arab dalam rangka untuk mempelajari ayat-ayat ini secara langsung. Universitas-universitas Eropa membantu secara materiil dalam terjemahan dan propagasi dari teks-teks ini dan memulai infrastruktur baru yang dibutuhkan bagi masyarakat ilmiah. Bahkan, universitas Eropa menaruh banyak karya tentang dunia alam dan studi alam di pusat kurikulumnya, [77] dengan hasil bahwa "universitas abad pertengahan meletakkan penekanan jauh lebih besar pada ilmu pengetahuan daripada rekan modern dan keturunan." [78]
Selain ini, Eropa mulai usaha lebih jauh dan lebih ke timur (terutama, mungkin, Marco Polo ) sebagai akibat dari Mongolica Pax . Hal ini menyebabkan meningkatnya pengaruh ilmu India dan bahkan Cina pada tradisi Eropa. Kemajuan teknologi juga dilakukan, seperti penerbangan awal Eilmer dari Malmesbury (yang pernah belajar Matematika di abad ke-11 Inggris ), [79] dan metalurgi prestasi Cistercian tanur tiup di Laskill . [80] [81]
Pada awal abad ke-13 ada beberapa terjemahan Latin yang cukup akurat dari karya-karya utama dari hampir semua penulis kuno intelektual penting, yang memungkinkan transfer suara gagasan ilmiah lewat kedua universitas dan biara-biara. Pada saat itu, filsafat alam yang terkandung dalam teks mulai diperpanjang oleh terkemuka skolastik seperti Robert Grosseteste , Roger Bacon , Albertus Magnus dan Duns Scotus  [ 82 ] Prekursor dari metode ilmiah modern, dipengaruhi oleh kontribusi awal dunia Islam, dapat dilihat sudah's penekanan Grosseteste pada matematika sebagai cara untuk memahami sifat, dan dalam pendekatan empiris dikagumi oleh Bacon, terutama dalam bukunya Opus Majus . Pierre Duhem ' tesis provokatif dari Gereja Katolik Kutukan dari 1277 mengarah pada studi ilmu abad pertengahan sebagai suatu disiplin yang serius, "tapi tidak ada yang di lapangan lagi mendukung pandangannya bahwa ilmu pengetahuan modern dimulai pada 1277". [82]
Paruh pertama abad 14 melihat karya ilmiah penting banyak dilakukan, terutama dalam kerangka skolastik komentar tentang ilmiah tulisan-tulisan itu Aristoteles. [83] William Ockham memperkenalkan prinsip parsimoni : filsuf alam tidak harus postulat entitas yang tidak perlu, sehingga gerak bukanlah hal yang berbeda tetapi hanya objek bergerak [84] dan perantara "spesies masuk akal" tidak diperlukan untuk mengirim gambar objek ke mata. [85] Para pakar seperti Jean Buridan dan Nicole Oresme mulai menafsirkan unsur-unsur mekanika Aristoteles. In particular, Buridan developed the theory that impetus was the cause of the motion of projectiles, which was a first step towards the modern concept of inertia . [ 86 ] Secara khusus, Buridan mengembangkan teori bahwa dorongan adalah penyebab dari gerak proyektil, yang merupakan langkah pertama menuju konsep modern inersia . [86] The Oxford Kalkulator matematis mulai menganalisis kinematika gerak, membuat analisis ini tanpa mempertimbangkan penyebab gerak. [87]

Ilmu pengetahuan modern

Revolusi Ilmiah didirikan sains sebagai sumber untuk pertumbuhan pengetahuan. [92] Selama abad ke-19, praktek ilmu menjadi professionalized dan dilembagakan dalam cara yang terus berlanjut sampai abad ke-20Sebagai peran pengetahuan ilmiah tumbuh dalam masyarakat, menjadi digabungkan dengan banyak aspek fungsi negara-bangsa.
Sejarah ilmu pengetahuan ditandai dengan rantai kemajuan teknologi dan pengetahuan yang selalu saling melengkapi. inovasi teknologi baru membawa penemuan dan dibesarkan oleh penemuan-penemuan lain, yang menginspirasi kemungkinan-kemungkinan baru dan pendekatan terhadap isu-isu ilmu lama.

 [ edit ] Geology [ sunting ] Geologi

Main article: History of geology Artikel utama: Sejarah geologi
Geologi berstatus sebagai suatu awan yang terisolasi, terputus ide tentang batuan, mineral, dan bentuklahan jauh sebelum itu menjadi ilmu yang koheren. Theophrastus kerja 'di batu lithōn Peri tetap otoritatif selama ribuan tahun: penafsiran fosil tidak terbalik sampai setelah Revolusi Ilmiah. Chinese polymath Shen Kua (1031–1095) was the first to formulate hypotheses for the process of land formation. Cina polymath Shen Kua (1031-1095) adalah orang pertama yang merumuskan hipotesis untuk proses pembentukan tanah. Berdasarkan pengamatan tentang fosil dalam geologi lapisan di gunung ratusan mil dari laut, ia menyimpulkan bahwa tanah dibentuk oleh erosi pegunungan dan pengendapan lumpur.
Geologi tidak sistematis direstrukturisasi selama Revolusi Ilmiah , tapi teori individu membuat kontribusi penting. Robert Hooke , misalnya, teori dirumuskan gempa bumi, dan Nicholas Steno mengembangkan teori superposisi dan berpendapat bahwa fosil adalah sisa-sisa makhluk hidup sekali. Beginning with Thomas Burnet 's Sacred Theory of the Earth in 1681, natural philosophers began to explore the idea that the Earth had changed over time. Dimulai dengan Thomas Burnet 's Suci Teori Bumi pada 1681, filsuf alam mulai menjelajahi gagasan bahwa Bumi telah berubah dari waktu ke waktu. Burnet dan sezamannya ditafsirkan melewati Bumi dalam hal kejadian yang dijelaskan dalam Alkitab, tetapi pekerjaan mereka meletakkan dasar-dasar intelektual untuk interpretasi sekuler sejarah Bumi.
seperti kimia modern, secara bertahap berevolusi selama awal abad ke-19 dan 18. Benoît de Maillet dan Comte de Buffon berpendapat bahwa Bumi jauh lebih tua dari 6.000 tahun yang dibayangkan oleh para ahli Alkitab. Jean-Étienne Guettard dan Nicolas Desmarest menaikkan Prancis tengah dan dicatat pengamatan mereka pada beberapa peta geologi pertama. Abraham Werner menciptakan sebuah skema klasifikasi yang sistematis untuk batuan dan mineral-prestasi seperti yang signifikan bagi geologi seperti yang dilakukan oleh Linnaeus adalah untuk biologi. Werner also proposed a generalized interpretation of Earth history, as did contemporary Scottish polymath James Hutton . Georges Cuvier and Alexandre Brongniart , expanding on the work of Steno , argued that layers of rock could be dated by the fossils they contained: a principle first applied to the geology of the Paris Basin. Werner juga mengusulkan interpretasi umum sejarah Bumi, seperti yang dilakukan kontemporer Skotlandia polymath James Hutton . Georges Cuvier dan Alexandre Brongniart , memperluas pada karya Steno , berpendapat bahwa lapisan batu bisa tanggal oleh fosil mereka berisi: prinsip terlebih dahulu untuk geologi dari Basin Paris. The use of index fossils became a powerful tool for making geological maps, because it allowed geologists to correlate the rocks in one locality with those of similar age in other, distant localities. Penggunaan fosil indeks menjadi alat yang ampuh untuk membuat peta geologi, karena memungkinkan ahli geologi untuk mengkorelasikan batu dalam satu tempat dengan orang-orang usia serupa di lain, tempat-tempat jauh. Over the first half of the 19th century, geologists such as Charles Lyell , Adam Sedgwick , and Roderick Murchison applied the new technique to rocks throughout Europe and eastern North America, setting the stage for more detailed, government-funded mapping projects in later decades. Selama paruh pertama abad ke-19, ahli geologi seperti Charles Lyell , Adam Sedgwick dan Roderick Murchison menerapkan teknik baru untuk batuan di seluruh Eropa dan timur Amerika Utara, setting panggung untuk lebih rinci, pemetaan proyek-proyek yang didanai pemerintah di dekade kemudian.
Midway through the 19th century, the focus of geology shifted from description and classification to attempts to understand how the surface of the Earth changed. Pertengahan abad ke-19, fokus geologi bergeser dari deskripsi dan klasifikasi usaha-usaha untuk memahami bagaimana permukaan bumi berubah. The first comprehensive theories of mountain building were proposed during this period, as were the first modern theories of earthquakes and volcanoes. Louis Agassiz and others established the reality of continent-covering ice ages , and "fluvialists" like Andrew Crombie Ramsay argued that river valleys were formed, over millions of years by the rivers that flow through them. Teori-teori komprehensif pertama bangunan gunung diusulkan selama periode ini, seperti juga teori modern pertama dari gempa bumi dan gunung berapi. Louis Agassiz dan lain-lain mendirikan realitas benua-meliputi zaman es , dan "fluvialists" seperti Andrew Crombie Ramsay berpendapat bahwa sungai lembah terbentuk, selama jutaan tahun oleh sungai-sungai yang mengalir melalui mereka. After the discovery of radioactivity , radiometric dating methods were developed, starting in the 20th century. Alfred Wegener 's theory of "continental drift" was widely dismissed when it was proposed in the 1910s, but new data gathered in the 1950s and 1960s led to the theory of plate tectonics , which provided a plausible mechanism for it. Plate tectonics also provided a unified explanation for a wide range of seemingly unrelated geological phenomena. Setelah penemuan radioaktivitas , kencan radiometrik metode dikembangkan, dimulai pada abad ke-20. Alfred Wegener teori tentang "pergeseran benua" secara luas diberhentikan ketika diusulkan pada tahun 1910, tetapi data baru berkumpul di tahun 1950-an dan 1960-an menyebabkan teori lempeng tektonik , yang menyediakan mekanisme yang masuk akal untuk itu. Lempeng tektonik juga memberikan penjelasan bersatu untuk berbagai macam fenomena geologi yang tampaknya tidak berhubungan. Since 1970 it has been the unifying principle in geology. Sejak tahun 1970 telah prinsip pemersatu dalam geologi.
Geologists' embrace of plate tectonics was part of a broadening of the field from a study of rocks into a study of the Earth as a planet. Geolog 'pelukan lempeng tektonik merupakan bagian dari memperluas lapangan dari studi batu ke dalam studi Bumi sebagai planet. Other elements of this transformation include: geophysical studies of the interior of the Earth, the grouping of geology with meteorology and oceanography as one of the "earth sciences", and comparisons of Earth and the solar system's other rocky planets. unsur-unsur lain dari transformasi ini meliputi: studi geofisika dari interior bumi, pengelompokan geologi dengan meteorologi dan oseanografi sebagai salah satu "ilmu bumi", dan perbandingan Bumi dan sistem lain berbatu surya planet-planet.

[ edit ] Astronomy [ sunting ] Astronomi

Main article: History of astronomy Artikel utama: Sejarah astronomi
Aristarchus of Samos published work on how to determine the sizes and distances of the Sun and the Moon, and Eratosthenes used this work to figure the size of the Earth. Hipparchus later discovered the precession of the Earth. Aristarkhus dari Samos diterbitkan bekerja bagaimana menentukan ukuran dan jarak dari matahari dan bulan, dan Eratosthenes digunakan pekerjaan ini untuk mencari ukuran Bumi. Hipparchus kemudian menemukan presesi Bumi.
Advances in astronomy and in optical systems in the 19th century resulted in the first observation of an asteroid ( 1 Ceres ) in 1801, and the discovery of Neptune in 1846. Kemajuan dalam astronomi dan dalam sistem optik pada abad ke-19 menghasilkan pengamatan pertama dari sebuah asteroid ( 1 Ceres ) pada tahun 1801, dan penemuan Neptunus pada tahun 1846.
George Gamow , Ralph Alpher , and Robert Hermann had calculated that there should be evidence for a Big Bang in the background temperature of the universe. [ 93 ] In 1964, Arno Penzias and Robert Wilson [ 94 ] discovered a 3 kelvin background hiss in their Bell Labs radiotelescope , which was evidence for this hypothesis, and formed the basis for a number of results that helped determine the age of the universe . George Gamow , Ralph Alpher , dan Robert Herman telah menghitung bahwa harus ada bukti untuk Big Bang pada suhu latar belakang alam semesta. [93] Pada tahun 1964, Arno Penzias dan Robert Wilson [94] menemukan latar belakang kelvin desis 3 di mereka Bell Labs radiotelescope , yang bukti untuk hipotesis ini, dan membentuk dasar bagi sejumlah hasil yang membantu menentukan usia alam semesta .
Supernova SN1987A was observed by astronomers on Earth both visually, and in a triumph for neutrino astronomy , by the solar neutrino detectors at Kamiokande . Supernova SN1987A diamati oleh para astronom di bumi baik secara visual, dan dalam kemenangan untuk astronomi neutrino , oleh detektor neutrino matahari di Kamiokande . But the solar neutrino flux was a fraction of its theoretically expected value . Tapi fluks neutrino matahari adalah sebagian kecil dari yang diharapkan secara teoritis nilainya . This discrepancy forced a change in some values in the standard model for particle physics . Perbedaan ini memaksa perubahan dalam beberapa nilai dalam model standar untuk fisika partikel .

[ edit ] Biology, medicine, and genetics [ sunting ] Biologi, obat-obatan, dan genetika

Semi-conservative DNA replication Semi-konservatif Replikasi DNA
In 1847, Hungarian physician Ignác Fülöp Semmelweis dramatically reduced the occurrency of puerperal fever by simply requiring physicians to wash their hands before attending to women in childbirth. Pada 1847, Hongaria dokter Ignác Fulop Semmelweis secara dramatis mengurangi occurrency dari demam nifas dengan hanya memerlukan dokter untuk mencuci tangan mereka sebelum menghadiri untuk ibu yang akan melahirkan. This discovery predated the germ theory of disease . Penemuan ini mendahului teori kuman penyakit . However, Semmelweis' findings were not appreciated by his contemporaries and came into use only with discoveries by British surgeon Joseph Lister , who in 1865 proved the principles of antisepsis . Namun, 'temuan Semmelweis tidak dihargai oleh orang-orang sezamannya dan mulai dipakai hanya dengan penemuan-penemuan oleh ahli bedah Inggris Joseph Lister , yang pada tahun 1865 membuktikan prinsip-prinsip antisepsis . Lister's work was based on the important findings by French biologist Louis Pasteur . adalah pekerjaan Lister didasarkan pada temuan penting oleh ahli biologi Perancis Louis Pasteur . Pasteur was able to link microorganisms with disease, revolutionizing medicine. Pasteur mampu menghubungkan mikroorganisme dengan penyakit, merevolusi obat. He also devised one of the most important methods in preventive medicine , when in 1880 he produced a vaccine against rabies . Dia juga merancang salah satu metode yang paling penting dalam kedokteran pencegahan , ketika pada tahun 1880 ia menghasilkan vaksin terhadap rabies . Pasteur invented the process of pasteurization , to help prevent the spread of disease through milk and other foods. [ 95 ] Pasteur menemukan proses pasteurisasi , untuk membantu mencegah penyebaran penyakit melalui susu dan makanan lainnya. [95]
Perhaps the most prominent, controversial and far-reaching theory in all of science has been the theory of evolution by natural selection put forward by the British naturalist Charles Darwin in his book On the Origin of Species in 1859. Mungkin yang menonjol, kontroversial dan jauh jangkauannya Teori yang paling dalam semua ilmu pengetahuan telah menjadi teori evolusi oleh seleksi alam yang dikemukakan oleh naturalis Inggris Charles Darwin dalam bukunya On the Origin of Species pada tahun 1859. Darwin proposed that the features of all living things, including humans, were shaped by natural processes over long periods of time. Darwin mengusulkan bahwa fitur dari semua makhluk hidup, termasuk manusia, yang dibentuk oleh proses alam selama jangka waktu yang lama. Implications of evolution on fields outside of pure science have led to both opposition and support from different parts of society, and profoundly influenced the popular understanding of "man's place in the universe". Implikasi evolusi pada bidang di luar sains murni telah menyebabkan baik oposisi dan dukungan dari berbagai bagian masyarakat, dan sangat mempengaruhi pemahaman populer "itu tempat manusia di alam semesta". However, Darwinian evolutionary models do not directly impact the study of genetics. Namun, model evolusi Darwin tidak berdampak langsung terhadap studi genetika. In the early 20th century, the study of heredity became a major investigation after the rediscovery in 1900 of the laws of inheritance developed by the Moravian [ 96 ] monk Gregor Mendel in 1866. Pada awal abad 20, studi tentang keturunan menjadi penyelidikan utama setelah penemuan kembali tahun 1900 undang-undang warisan yang dikembangkan oleh Moravia [96] biarawan Gregor Mendel pada tahun 1866. Mendel's laws provided the beginnings of the study of genetics , which became a major field of research for both scientific and industrial research. Teman-hukum Mendel memberikan awal studi tentang genetika , yang menjadi bidang utama penelitian dan industri baik untuk penelitian ilmiah. By 1953, James D. Watson , Francis Crick and Maurice Wilkins clarified the basic structure of DNA, the genetic material for expressing life in all its forms. [ 97 ] In the late 20th century, the possibilities of genetic engineering became practical for the first time, and a massive international effort began in 1990 to map out an entire human genome (the Human Genome Project ) has been touted as potentially having large medical benefits. Pada 1953, James D. Watson , Francis Crick dan Maurice Wilkins mengklarifikasi struktur dasar DNA, bahan genetik untuk menyatakan kehidupan dalam segala bentuknya. [97] Pada akhir abad 20, kemungkinan rekayasa genetika menjadi praktis untuk pertama kalinya waktu, dan upaya internasional besar-besaran mulai tahun 1990 untuk memetakan mengeluarkan seluruh manusia genom (dalam Human Genome Project ) telah disebut-sebut sebagai berpotensi memiliki tunjangan kesehatan besar.

[ edit ] Ecology [ sunting ] Ekologi

Main article: History of ecology Artikel utama: Sejarah ekologi
Earthrise over the Moon , Apollo 8 , NASA . Earthrise atas Bulan , Apollo 8 , NASA . This image helped create awareness of the finiteness of Earth, and the limits of its natural resources . Gambar ini membantu menciptakan kesadaran akan keterbatasan Bumi, dan batas-batas yang sumber daya alam .
The discipline of ecology typically traces its origin to the synthesis of Darwinian evolution and Humboldtian biogeography , in the late 19th and early 20th centuries. Disiplin ekologi biasanya jejak asal kepada sintesis evolusi Darwin dan Humboldtian biogeografi , pada abad ke-20 ke-19 awal dan akhir. Equally important in the rise of ecology, however, were microbiology and soil science —particularly the cycle of life concept, prominent in the work Louis Pasteur and Ferdinand Cohn . Kalah penting dalam kebangkitan ekologi, bagaimanapun, mikrobiologi dan ilmu tanah -khususnya siklus hidup konsep, menonjol dalam karya Louis Pasteur dan Ferdinand Cohn . The word ecology was coined by Ernst Haeckel , whose particularly holistic view of nature in general (and Darwin's theory in particular) was important in the spread of ecological thinking. Ekologi Kata ini diciptakan oleh Ernst Haeckel , yang terutama holistik pemandangan alam secara umum (dan Teman-teori Darwin khususnya) sangat penting dalam penyebaran pemikiran ekologis. In the 1930s, Arthur Tansley and others began developing the field of ecosystem ecology , which combined experimental soil science with physiological concepts of energy and the techniques of field biology . Pada 1930, Arthur Tansley dan lain-lain mulai mengembangkan bidang ekologi ekosistem , yang dikombinasikan ilmu tanah eksperimental dengan konsep fisiologis energi dan teknik bidang biologi . The history of ecology in the 20th century is closely tied to that of environmentalism ; the Gaia hypothesis in the 1960s and more recently the scientific-religious movement of Deep Ecology have brought the two closer together. Sejarah ekologi di abad 20 terkait erat dengan yang environmentalism , sedangkan hipotesis Gaia pada tahun 1960 dan lebih baru-baru ini-religius gerakan ilmiah Deep Ekologi telah membawa dua dekat bersama.

[ edit ] Social sciences [ sunting ] Ilmu Sosial

Successful use of the scientific method in the physical sciences led to the same methodology being adapted to better understand the many fields of human endeavor. Keberhasilan penggunaan metode ilmiah dalam ilmu fisika menyebabkan metodologi yang sama sedang disesuaikan untuk lebih memahami berbagai bidang usaha manusia. From this effort the social sciences have been developed. Dari upaya ini ilmu-ilmu sosial telah dikembangkan.

[ edit ] Political science in Ancient India [ sunting ] Ilmu politik di India Kuno

The most studied literature on political science from Ancient India is an ancient Indian treatise on statecraft , economic policy and military strategy which identifies its author by the names Kautilya [ 98 ] and Vihugupta , [ 99 ] who are traditionally identified with Chāakya (c. 350–-283 BCE). Yang belajar sastra paling pada ilmu politik dari Ancient India merupakan India kuno risalah pada tata negara , ekonomi kebijakan dan strategi militer yang mengidentifikasi penulisnya dengan nama Kautilya [98] dan Vihugupta, [99] yang secara tradisional diidentifikasi dengan Chanakya (c. 350 - 283 SM). In this treatise, the behaviors and relationships of the people, the King, the State, the Government Superintendents, Courtiers, Enemies, Invaders, and Corporations are analysed and documented. Dalam risalah ini, perilaku dan hubungan masyarakat, Raja, Negara, Pemerintah Superintenden, istana, Musuh, Invaders, dan Korporasi dianalisis dan didokumentasikan. Roger Boesche describes the Arthaśāstra as "a book of political realism, a book analysing how the political world does work and not very often stating how it ought to work, a book that frequently discloses to a king what calculating and sometimes brutal measures he must carry out to preserve the state and the common good." [ 100 ] Roger Boesche menggambarkan Arthasastra sebagai "sebuah buku realisme politik, buku menganalisis bagaimana dunia politik tidak bekerja dan tidak terlalu sering menyatakan bagaimana seharusnya bekerja, sebuah buku yang sering mengungkapkan ke raja apa yang menghitung dan kadang-kadang tindakan brutal dia harus membawa keluar untuk mempertahankan negara dan kepentingan umum. " [100]

[ edit ] Political science in the Western and Islamic Cultures [ sunting ] Ilmu politik di Barat dan Islam Budaya

While, in the Western Culture , the study of politics is first found in Ancient Greece , political science is a late arrival in terms of social sciences [ citation needed ] . Sementara, dalam Budaya Barat , studi tentang politik yang pertama ditemukan di Yunani Kuno , ilmu politik adalah keterlambatan dalam hal ilmu-ilmu sosial [ rujukan? ]. However, the discipline has a clear set of antecedents such as moral philosophy , political philosophy , political economy , history, and other fields concerned with normative determinations of what ought to be and with deducing the characteristics and functions of the ideal form of government . Namun, disiplin memiliki seperangkat jelas pendahulunya seperti filsafat moral , filsafat politik , ekonomi politik , sejarah, dan bidang lain yang terkait dengan normatif penentuan apa yang seharusnya dan dengan menyusun kesimpulan karakteristik dan fungsi dari bentuk ideal pemerintahan . In each historic period and in almost every geographic area, we can find someone studying politics and increasing political understanding. Dalam setiap periode sejarah dan di hampir semua wilayah geografis, kita dapat menemukan seseorang belajar politik dan meningkatkan pemahaman politik.
Although the roots of politics may be in Prehistory , the antecedents of European politics trace their roots back even earlier than Plato and Aristotle , particularly in the works of Homer , Hesiod , Thucydides , Xenophon , and Euripides . Meskipun akar politik mungkin berada di Prasejarah , pendahulunya politik Eropa menelusuri akar mereka kembali lebih awal dari Plato dan Aristoteles , khususnya dalam karya-karya Homer , Hesiod , Thucydides , Xenophon , dan Euripides . Later, Plato analyzed political systems, abstracted their analysis from more literary - and history- oriented studies and applied an approach we would understand as closer to philosophy . Kemudian, Plato dianalisis sistem politik, disarikan dari analisis mereka lebih sastra - dan sejarah berorientasi studi dan menerapkan pendekatan kita akan memahami sebagai lebih dekat ke filsafat . Similarly, Aristotle built upon Plato's analysis to include historical empirical evidence in his analysis. Demikian pula, Aristoteles dibangun di atas analisis Plato untuk menyertakan bukti empiris historis dalam analisisnya.
During the rule of Rome , famous historians such as Polybius , Livy and Plutarch documented the rise of the Roman Republic , and the organization and histories of other nations, while statesmen like Julius Caesar , Cicero and others provided us with examples of the politics of the republic and Rome's empire and wars. Pada masa pemerintahan Roma , sejarawan terkenal seperti Polybius , Livy dan Plutarch mendokumentasikan bangkitnya Romawi Republik , dan organisasi dan sejarah bangsa-bangsa lain, sementara negarawan seperti Julius Caesar , Cicero dan lain-lain yang diberikan kita dengan contoh-contoh dari politik dari republik dan kerajaan Roma dan perang. The study of politics during this age was oriented toward understanding history, understanding methods of governing, and describing the operation of governments. Studi tentang politik selama usia ini adalah berorientasi pada pemahaman sejarah, pemahaman metode pemerintahan, dan menggambarkan operasi pemerintah.
With the fall of the Roman Empire , there arose a more diffuse arena for political studies. Dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi , ada muncul arena lebih menyebar untuk studi politik. The rise of monotheism and, particularly for the Western tradition, Christianity , brought to light a new space for politics and political action [ citation needed ] . Munculnya monoteisme dan, khususnya untuk tradisi Barat, Kristen , dibawa ke cahaya ruang baru untuk politik dan tindakan politik [ rujukan? ]. During the Middle Ages , the study of politics was widespread in the churches and courts. Selama Abad Pertengahan , studi politik telah tersebar luas di gereja-gereja dan pengadilan. Works such as Augustine of Hippo 's The City of God synthesized current philosophies and political traditions with those of Christianity , redefining the borders between what was religious and what was political. Karya-karya seperti Augustine dari Hippo 's The City of God disintesis filsafat saat ini dan tradisi politik dengan orang-orang Kristen , mendefinisikan ulang batas antara apa yang agama dan apa yang politik. Most of the political questions surrounding the relationship between Church and State were clarified and contested in this period. Sebagian besar pertanyaan seputar politik hubungan antara Gereja dan Negara yang dijelaskan dan diperebutkan dalam periode ini.
In the Middle East and later other Islamic areas, works such as the Rubaiyat of Omar Khayyam and Epic of Kings by Ferdowsi provided evidence of political analysis, while the Islamic aristotelians such as Avicenna and later Maimonides and Averroes , continued Aristotle 's tradition of analysis and empiricism , writing commentaries on Aristotle's works. Di Timur Tengah dan kemudian lainnya Islam daerah, bekerja seperti Rubaiyat Omar Khayyam dan Epos Kings oleh Firdausi memberikan bukti analisis politik, sedangkan Islam aristotelians seperti Ibnu Sina dan kemudian Maimonides dan Averroes , lanjut Aristoteles tradisi 'analisa dan empirisme , menulis komentar tentang karya-karya Aristoteles.
During the Italian Renaissance , Niccolò Machiavelli established the emphasis of modern political science on direct empirical observation of political institutions and actors. Selama Renaisans Italia , Niccolò Machiavelli mendirikan penekanan ilmu politik modern pada langsung empiris pengamatan politik lembaga-lembaga dan aktor. Later, the expansion of the scientific paradigm during the Enlightenment further pushed the study of politics beyond normative determinations [ citation needed ] . Kemudian, perluasan paradigma ilmiah selama Pencerahan lebih lanjut mendorong studi politik luar penentuan normatif [ rujukan? ]. In particular, the study of statistics , to study the subjects of the state , has been applied to polling and voting . Secara khusus, studi tentang statistik , untuk mempelajari mata pelajaran dari negara , telah diterapkan untuk pemungutan suara dan suara .

[ edit ] Modern Political Science [ sunting ] Modern Ilmu Politik

Main article: Political science Artikel utama: Politik ilmu
In the 20th century, the study of ideology, behaviouralism and international relations led to a multitude of 'pol-sci' subdisciplines including rational choice theory , voting theory , game theory (also used in economics), psephology , political geography / geopolitics , political psychology / political sociology , political economy , policy analysis , public administration , comparative political analysis and peace studies /conflict analysis. Pada abad ke-20, studi tentang ideologi, behaviouralism dan hubungan internasional menyebabkan banyak pol-sci 'subdisiplin' termasuk teori pilihan rasional , suara teori , teori permainan (juga digunakan dalam ilmu ekonomi), psephology , geografi politik / geopolitik , politik psikologi / sosiologi politik , ekonomi politik , analisis kebijakan , administrasi publik , analisis politik komparatif dan studi perdamaian / analisis konflik.
At the beginning of the 21st century, political scientists have increasingly deployed deductive modelling and systematic empirical verification techniques ( quantitative methods ) bringing their discipline closer to the scientific mainstream [ citation needed ] . Pada awal abad ke-21, para ilmuwan politik telah semakin dikerahkan pemodelan teknik deduktif dan verifikasi empiris sistematis ( metode kuantitatif ) membawa disiplin mereka lebih dekat ke mainstream ilmiah [ rujukan? ].

[ edit ] Linguistics [ sunting ] Linguistik

Main article: History of linguistics Artikel utama: Sejarah linguistik
Historical linguistics emerged as an independent field of study at the end of the 18th century. Sir William Jones proposed that Sanskrit , Persian , Greek , Latin , Gothic , and Celtic languages all shared a common base. linguistik historis muncul sebagai suatu bidang studi independen pada akhir abad ke-18. Sir William Jones mengusulkan bahwa bahasa Sanskerta , Persia , Yunani , Latin , Gothic , dan bahasa Celtic semua berbagi dasar umum. After Jones, an effort to catalog all languages of the world was made throughout the 19th century and into the 20th century. Setelah Jones, upaya untuk katalog semua bahasa di dunia itu dibuat sepanjang abad ke-19 dan abad ke-20. Publication of Ferdinand de Saussure 's Cours de linguistique générale created the development of descriptive linguistics . Publikasi Ferdinand de Saussure 's Cours de linguistique Générale menciptakan perkembangan linguistik deskriptif . Descriptive linguistics, and the related structuralism movement caused linguistics to focus on how language changes over time, instead of just describing the differences between languages. Noam Chomsky further diversified linguistics with the development of generative linguistics in the 1950s. linguistik deskriptif, dan terkait strukturalisme linguistik menyebabkan gerakan untuk fokus pada perubahan bahasa bagaimana dari waktu ke waktu, bukan hanya menggambarkan perbedaan antara bahasa. Noam Chomsky linguistik terdiversifikasi lebih lanjut dengan perkembangan linguistik generatif pada tahun 1950. His effort is based upon a mathematical model of language that allows for the description and prediction of valid syntax . Usahanya didasarkan pada model matematika bahasa yang memungkinkan untuk deskripsi dan prediksi yang masih berlaku sintaks . Additional specialties such as sociolinguistics , cognitive linguistics , and computational linguistics have emerged from collaboration between linguistics and other disciplines. spesialisasi tambahan seperti sosiolinguistik , linguistik kognitif , dan linguistik komputasi telah muncul dar














BAB III
HAKIKAT DAN KEGUNAAN FILSAFAT ILMU
Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan tekhnologi. Kaum ilmuan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan tekhnologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain di samping kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Namun bila kaum ilmuan ‘konsekuen’ dengan pandangan hidupnya, baik secara intelektual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu akan berdiri dengan kokoh.
Alkisah….
Suatu hari PLATO (427 – 347 S.M.) mendapat pertanyaan dari seorang muridnya : “Apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah kau berikan selama ini…?”. Merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini, filsuf besar ini langsung memecat serta mengeluarkan murid tersebut dari sekolah.
Pada waktu itu, memang pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, semuanya belum mempunyai kegunaan praktis, melainkan estetis. Artinya, seperti kita sedang belajar main piano atau membaca sajak cinta saja, maka pengetahuan semacam ini lebih ditujukan kepada kepuasan jiwa, dan sama sekali bukan sebagai konsep untuk memecahkan suatu masalah. Bahkan sampai sekarang pun gejala ini masih sangat terlihat jelas dan menonjol, di mana orang-orang mempelajari berbagai pengetahuan ilmiah bukanlah sebagai teori yang mempunyai fungsi dan kegunaan praktis, melainkan hanya sekedar upaya untuk memperkaya jiwa.
Sambil minum teh serta makanan ringan (snack) lainnya, mereka berdebat tentang masalah nuklir sampai pedagang kaki lima, sekedar untuk mengasah ketajaman berpikir mereka dan mendapatkan kepuasan jiwa. Seperti layaknya olahragawan dalam seni raga orhiba, misalnya, mereka sampai merem-melek setelah kepenatan latihan sebagai ungkapan rasa kepuasan jiwa mereka.
Ilmu merupakan sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan ketika berdebat. Makin hafal lantas makin hebat…!
Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang-bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul, kita bisa ikut menyambut. Makin banyak makin yahut…!
Kemampuan mengutip teori-teori ilmiah yang bersifat estetik ini, lalu berkembang menjadi status sosial. Seperti segelintir masyarakat golongan menengah, yang memaksa anak-anaknya untuk belajar main piano atau organ. (“Gengsi doong…!” Katanya !). Padahal anak ingusan itu masih lebih senang berkubang lumpur, bermain karet, bermain boneka, dsb…, ketimbang disuruh memijiti tuts.
Penempatan dan penerapan ilmu pada zaman Yunani Kuno itu, disebabkan filsafat (kefilsafatan) mereka yang memandang rendah terhadap pekerjaan yang bersifat praktis, yang pada waktu itu lazimnya dikerjakan oleh para Budak Belian (Hamba Sahaya).
Adalah hal yang kurang pada tempatnya kalau kaum yang merdeka hanya selalu memikirkan masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka. Bukankah pekerjaan praktis yang selalu memeras tenaga adalah predikat kaum hamba sahaya ? Hmmm… Sebenarnya pendapat/opini semacam ini bukanlah sesuatu yang tabu, Teman ! Sebab, zaman sekarang pun masih banyak orang-orang yang beranggapan seperti itu.
Atau bahkan, “Anakku, jangan mau jadi masinis atau pekerja tekhnik ya…! Jadi pegawai negeri saja, enak lho…!!!” (…begitu katanya!).
Nah, persepsi yang salah seperti inilah yang sebenarnya menyebabkan kurang berkembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak lagi memiliki fungsi sebagai pengetahuan yang diterapkan dalam masalah kita sehari-hari, melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi (dinikmati). Seperti halnya lagu Ebiet G. Ade, sajak Sutardji, atau bahkan lagu Virgiawan Listanto alias Iwan Fals.
Sekarang ini, bukan lagi hal yang mustahil apabila kita menemukan dalam sebuah lomba deklamasi, mungkin ada salah seorang peserta yang setelah mengangguk kepada dewan juri, dan kemudian spontan memekik : “H-u-k-u-u-u-m B-o-y-l-e…!” (dengan intonasi selangit).
Sajak Sutardji, lagu Ebiet atau Iwan Fals, masing-masing fungsinya memang bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, bisa memberikan kenikmatan bathiniah. Jiwa kita tergetar, terharu, dan tersentuh oleh komunikasi artistik, menyibakkan dunia makna yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.
Sebuah karya Multatuli, yakni Max Havelaar, begitu menyentuh nurani bangsa Belanda, yang membuahkan perubahan sikap terhadap penindasan dan penjajahan, yang seperti kita ketahui dalam sejarah, membuahkan perubahan terhadap kebijaksanaan politik. Meskipun patut dicatat bahwa perubahan sikap dan kelakuan itu tidak selalu menggembirakan.
Atau seperti lagu Sombre Di Manche dan novel Werther karya Goethe, misalnya, pernah menyebabkan orang-orang muda sepi dan patah hati, hingga melakukan bunuh diri… Hmmm….
Kiranya bahwa sajak atau nyanyian adalah fungsional bagi kehidupan kita, dan hal ini tidak perlu diragukan lagi, namun terdapat fungsi dan kegunaan yang berbeda antara kedua ungkapan seni tersebut dengan teori keilmuan. Seperti perbedaan antara Hukum Boyle dengan lagu Ebiet G. Ade.
Lagu Ebiet, misalnya, mengungkapkan masalah urbanisasi : “terkapar di tengah kota, berbekal tinggal sehelai sarung, namun malu balik ke desa…!” Lagu ini, mungkin menyadarkan kita kepada permasalahan-permasalahan yang merasuk ini, berkumandang dan menggelitik nurani, yang membuahkan perubahan sikap dan mungkin perilaku kita terhadap urbanisasi. Namun yang jelas, kita tidak pernah bisa memecahkan masalah urbanisasi hanya dengan menyanyi.
Lalu bagaimana…?
Ya, tentu kita harus melakukan tindakan-tindakan kongkrit dong…! Tidak dengan membentuk “Vocal Group”, namun melakukan serangkaian tindakan-tindakan yang konsepsional berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang terandalkan.
Nah, untuk sementara Ebiet keluar panggung, sekarang giliran ilmuwan Ahli Urban masuk. Bukan menjinjing guitar, melainkan mengepit textbook.
Buku-buku teks ilmuwan ini, tidak jauh berbeda dengan buku-buku primbon seorang peramal (tukang ramal), yang dipergunakan untuk konsultasi dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Ya, paling pun berbeda, tidak lain adalah ruang lingkupnya :
“Mbah, bagaimana ya ramalan kehiduan cucunda setelah PILKADA nanti ?”
Atau, “Prof, bagaimana ramalan situasi minyak bumi kita menjelang tahun 2020 nanti ?”
Eh, bahkan, seperti konsultasi dengan dokter, kita bukan hanya sekedar didiagnosis, namun juga diberi pemecahan-pemecahan praktis.
“Cucuku, agar ramalan yang suram ini segera lenyap, maka minumlah air putih ini tiga kali sehari, setelah membakar kemenyan…!” (misalnya).
Atau, “Agar sumur minyak Indonesia pada tahun 2020 nanti tidak dijadikan kubangan kerbau, maka sejak dini kita harus mengembangkan kompor dengan energi nuklir…!” (misalnya).
Jadi, buku-buku tebal ilmuwan pada hakikatnya sama saja dengan buku-buku primbon tukang ramal, yakni menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Namun dalam hal ini, tentu saja yang berbeda adalah asas-asas dan prosedurnya.
Menjelaskan-meramalkan-mengontrol inflasi, kita mempergunakan asas dan prosedur keilmuan. Sedangkan menjelaskan-meramalkan-mengontrol telapak tangan, kita mempergunakan asas dan prosedur perklinikan.
Nah, dengan demikian, kita tidak usah heran kalau dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan, orang tidak selalu datang berkonsultasi kepada ilmuwan, melainkan kepada tukang ramal. Keduanya memang melakukan fungsi dan kegunaan yang sama, meskipun dengan asas dan prosedur yang berbeda. Pilihan diantara keduanya memang “sangat tergantung” kepada kepercayaan kita masing-masing. Artinya, dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan, apakah kita mempercayai asas dan prosedur keilmuan atau perklinikan.
Tingkat kepercayaan seseorang dan masyarakat memang berbeda-beda ; Kepercayaan seseorang tergantung kepada pendidikannya (baik formal maupun non-formal), sedangkan kepercayaan masyarakat tergantung kepada kebudayaannya (baik tradisional maupun mutakhir).
Lalu bagaimana tingkat professional ilmuwan yang tidak bisa menjelaskan-meramalkan-dan-mengontrol masalah-masalah kehidupan kehidupan, melainkan sekedar menghafal ?
Mungkin bisa membantu musisi menciptakan syair lagu-lagunya dalam rangka memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan mengilmiahkan masyarakat !
Musik ? Ilmuwan ?
“….Humor mengajarkan toleransi. Dan seorang humoris, dengan senyum di bibirnya, sambil menghela nafas, kemungkinan besar akan mengangkat bahu daripada harus memaki-maki
PENUTUP
Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memfikirkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafati. Kalau ilmu diibiratkan sebagai sebuah pohon yang memiliki berbagai cabang pemikiran, ranting pemahaman, serta buah solusi, maka filsafat adalah tanah dasar tempat pohon tersebut berpijak dan tumbuh.
Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang bertanya. Sedang objek materinya ialah semua yang ada yang bagi manusia perlu dipertanyakan hakikatnya. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang berberadaban lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Dalam perkembanganya, filsafat Yunani sempat mengalami masa pasang surut. Ketika peradaban Eropa harus berhadapan dengan otoritas Gereja dan imperium Romawi yang bertindak tegas terhadap keberadaan filsafat di mana dianggap mengancam kedudukannya sebagai penguasa ketika itu.
Filsafat Yunani kembali muncul pada masa kejayaan Islam dinasti Abbasiyah sekitar awal abad 9 M. Tetapi di puncak kejayaannya, dunia filsafat Islam mulai mengalami kemunduran ketika antara para kaum filsuf yang diwakili oleh Ibnu Rusd dengan para kaum ulama oleh Al-Ghazali yang menganggap filsafat dapat menjerumuskan manusia ke dalam Atheisme bergolak. Hal ini setelah Ibnu Rusd sendiri menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli atau mistikus agama.
Setelah abad ke-13, peradaban filsafat islam benar-benar mengalami kejumudan setelah kaum ulama berhasil memenangkan perdebatan panjang dengan kaum filosof. Kajian filsafat dilarang masuk kurikulum pendidikan. Pemerintahan mempercayakan semua konsep berfikir kepada para ulama dan ahli tafsir agama. Beriringan dengan itu, di Eropa, demam filsafat sedang menjamur. Banyak buku-buku karangan filosof muslim yang diterjemahkan kedalam bahasa latin. Ini sekaligus menunjukkan bahwa setelah pihak gereja berkuasa pada masanya dan sebelum peradaban Islam mulai menerjemahkan teks-teks aristoteles dan lain sebagainya oleh Al Kindhi, di Eropa benar-benar tidak ditemukan lagi buku-buku filsafat hasil peradaban Yunani.
Entah kebetulan atau tidak, ketika filsafat di dunia islam bisa dikatakan telah usai dan berpindah ke eropa, peradaban islam pun mengalami kemunduran sementara di eropa sendiri mengalami masa yang disebut sebagai abad Renaissance atau abad pencerahan, pada sekitar abad ke-15 M.
Tapi tidak demikian halnya dalam komunitas gereja. Periode ini juga menghantarkan dunia kristen menjadi terbelah. Doktrin para pendeta katolik terus mendapatkan protes dari kaum Protestan.
Adapun para filsuf zaman modern setelah masa aufklarung, abad ke-17 M, menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Para filsuf modern yang tercatat dalam sejarah ialah Descartes, Karl Marx, Nietsche, JJ Rosseau, Dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
id.wikipedia.org
blog.wordpress.com
philosopi Mingguan Indonesia
Harian KOMPAS Rabu, 02 Mar 2005 Halaman: 46
kognItar.wordpres.org


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar